Langsung ke konten utama

OPTIMALISASI PERAN PERSERODA SULAWESI BARAT DALAM PENGELOLAAN SEKTOR PERIKANAN DAN KELAUTAN

 


RINGKASAN EKSEKUTIF

Provinsi Sulawesi Barat memiliki potensi kelautan dan perikanan yang besar, sebagaimana ditegaskan oleh Penjabat Gubernur Sulbar bahwa kekayaan alam daerah harus dikelola dengan baik untuk meningkatkan daya saing komoditas di pasar global dan membuka peluang ekspor yang lebih luas . Sektor perikanan memiliki prospek strategis untuk menjadi penopang utama perekonomian daerah dan berkontribusi signifikan terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) jika dikelola dengan tepat sasaran dan didukung infrastruktur memadai .

Namun, optimalisasi sektor ini melalui Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) di Sulbar masih belum maksimal. Pengalaman dari berbagai daerah menunjukkan bahwa BUMD/BUMDes dapat berperan aktif dalam pengelolaan perikanan melalui perbaikan proses bisnis , optimalisasi penampungan dan distribusi ikan dengan pendekatan berbasis masyarakat , serta kolaborasi lintas lembaga untuk pengembangan budidaya .

Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2017 tentang BUMD memberikan landasan hukum yang kuat bagi Perseroda untuk berperan dalam pengelolaan sektor perikanan dan kelautan. Policy brief ini menganalisis potensi, tantangan, dan strategi optimalisasi peran PT Sulawesi Barat Malaqbi (Perseroda) dalam mengelola sektor strategis ini untuk mewujudkan visi masyarakat Sulbar yang maju dan sejahtera.


IDENTIFIKASI MASALAH

1. Potensi Perikanan Sulbar yang Belum Terkelola Optimal

Pj. Gubernur Sulbar menegaskan bahwa potensi kekayaan alam Sulbar harus dikelola dengan baik, dan Balai Karantina memiliki peran strategis untuk meningkatkan daya saing komoditas di pasar global . Namun, talk show bertema "Perkuat Strategi Hilirisasi dan Peluang Pasar Ekspor Komoditas Pertanian dan Perikanan" yang digelar dalam Sulbar EXPO 2024 mengindikasikan bahwa hilirisasi dan ekspor masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu diperkuat .

Beberapa tantangan yang dihadapi sektor perikanan di berbagai daerah dan relevan dengan Sulbar:

  • Infrastruktur belum optimal seperti ditemukan dalam studi di Sidoarjo, di mana infrastruktur yang tidak memadai menjadi kendala utama optimalisasi BUMDes perikanan .

  • Keterbatasan sumber daya manusia dalam mengelola usaha perikanan secara profesional .

  • Permodalan yang masih kurang untuk mengelola potensi desa/daerah secara optimal .

2. Kesenjangan dengan Praktik Baik dari Daerah Lain

Berbagai daerah telah menunjukkan keberhasilan dalam mengoptimalkan BUMD/BUMDes di sektor perikanan:

DaerahInisiatifHasilSumber
Banda AcehOptimalisasi proses bisnis penjualan ikan dengan Business Process ManagementPerbaikan alur bisnis, penambahan aktivitas sortasi, penjualan online, dan pembukuan
BUMDes Pesona BengaraStrategi Community-Based Management untuk penampungan dan distribusi ikanPeningkatan efisiensi rantai pasok, keterlibatan aktif masyarakat
Sumba TimurKolaborasi Unram, Konservasi Indonesia, dan BUMDes untuk budidaya rumput lautPanen 6 ton bibit unggul, kemandirian petani, keberlanjutan ekosistem
SidoarjoOptimalisasi BUMDes melalui pengelolaan produksi ikan bandengDampak positif bagi masyarakat meski masih menghadapi kendala infrastruktur dan permodalan

Sulawesi Barat, dengan potensi kelautan yang besar, belum memiliki inisiatif serupa melalui BUMD Perseroda.

3. Tantangan Tata Kelola dan Infrastruktur

Pengalaman dari Provinsi Riau menunjukkan bahwa tata kelola aset yang baik, ketersediaan sarana produksi (seperti sertifikat indukan dan pakan standar), serta infrastruktur pendukung (pelabuhan, pabrik es) menjadi kunci pengembangan sektor perikanan . Komisi III DPRD Riau menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat untuk menjadikan sektor kelautan dan perikanan sebagai penopang utama perekonomian daerah .


ANALISIS POTENSI DAN TANTANGAN

Potensi Pengembangan Sektor Perikanan oleh Perseroda Sulbar

  1. Potensi Sumber Daya Alam: Sulbar memiliki wilayah pesisir yang luas dengan komoditas unggulan yang berpotensi ekspor, sejalan dengan upaya Balai Karantina dalam menggali potensi ekspor komoditas perikanan .

  2. Dukungan Kebijakan: Pemerintah Provinsi melalui berbagai forum seperti Sulbar EXPO 2024 telah menunjukkan komitmen untuk mendorong hilirisasi dan ekspor komoditas perikanan .

  3. Kebutuhan Pasar: Potensi ekspor produk perikanan Indonesia sangat besar, tetapi membutuhkan persiapan kualitas dan standar internasional. BUMD dapat menjadi fasilitator untuk memenuhi standar ekspor tersebut.

  4. Pengalaman Keberhasilan di Daerah Lain: Keberhasilan BUMDes di Sumba Timur dalam budidaya rumput laut melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi dan LSM  serta BUMDes Pesona Bengara dalam pengelolaan rantai pasok ikan dengan pendekatan berbasis masyarakat  menunjukkan bahwa model pengelolaan ini dapat direplikasi.

Tantangan yang Dihadapi

  1. Keterbatasan Modal: Studi di Sidoarjo menunjukkan bahwa permodalan yang memadai masih menjadi kendala utama BUMDes dalam mengelola potensi daerah . Perseroda Sulbar juga menghadapi tantangan serupa.

  2. Kapasitas SDM: Pengelolaan BUMD di sektor perikanan membutuhkan SDM yang memahami teknis perikanan, manajemen rantai pasok, dan pemasaran. Studi di Sidoarjo mengidentifikasi keterbatasan SDM sebagai salah satu penyebab belum optimalnya pengelolaan .

  3. Infrastruktur yang Belum Memadai: Infrastruktur seperti tempat pelelangan ikan, cold storage, dan pabrik es masih terbatas. Pengalaman di Riau menunjukkan bahwa pengembangan infrastruktur seperti pelabuhan dan pabrik es menjadi prioritas untuk meningkatkan kapasitas produksi .

  4. Koordinasi Lintas Sektor: Optimalisasi BUMD membutuhkan sinergi berbagai pihak, termasuk Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Koperasi, perbankan, dan pemerintah kabupaten/kota. Keberhasilan di Sumba Timur membuktikan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, LSM, pemerintah daerah, dan BUMDes .


REKOMENDASI STRATEGIS

A. Jangka Pendek (3-6 Bulan) - Konsolidasi dan Perencanaan

NoStrategiLangkah OperasionalPenanggung JawabTarget Waktu
1Kajian Kebutuhan dan Kelayakan UsahaLakukan analisis kebutuhan daerah dan analisis kelayakan bidang usaha perikanan sebagai dasar pengembangan BUMD, termasuk pemetaan komoditas unggulan di masing-masing kabupaten/kotaPT Sulbar Malaqbi, Bapperida, DKP SulbarApril-Juni 2026
2Koordinasi Lintas SektorBentuk forum koordinasi antara PT Sulbar Malaqbi, DKP Sulbar, Dinas Koperasi UKM, perbankan daerah, dan akademisi untuk menyamakan visi pengembangan sektor perikanan, meniru model kolaborasi sukses di Sumba Timur Gubernur, SekdaSegera
3Benchmarking ke Daerah LainLakukan studi banding ke BUMDes/BUMD yang sukses di sektor perikanan, seperti BUMDes Pesona Bengara dengan pendekatan community-based management  atau inisiatif serupa di Banda Aceh yang telah melakukan optimalisasi proses bisnis penjualan ikan PT Sulbar Malaqbi, DKP SulbarMei-Juni 2026
4Penyusunan Rencana BisnisSusun rencana bisnis dan anggaran (RBA) untuk unit usaha perikanan dengan target jangka pendek, menengah, dan panjang, termasuk proyeksi kontribusi terhadap PADPT Sulbar MalaqbiJuni 2026

B. Jangka Menengah (6-12 Bulan) - Pengembangan Usaha dan Kemitraan

  1. Pengembangan Unit Usaha Penampungan dan Distribusi Ikan:

    • Dirikan unit penampungan ikan dengan sistem manajemen yang efisien, mengadopsi praktik baik dari BUMDes Pesona Bengara dalam mengoptimalkan penampungan dan distribusi ikan melalui pendekatan berbasis masyarakat .

    • Implementasikan perbaikan proses bisnis dengan menambahkan aktivitas sortasi, penjualan online, dan pembukuan yang terstandar, sebagaimana direkomendasikan dalam studi optimalisasi BUMD di Banda Aceh .

  2. Pengembangan Budidaya Rumput Laut:

    • Jalin kerjasama dengan perguruan tinggi (misalnya Universitas Sulawesi Barat atau Unhas) dan lembaga riset untuk pengembangan bibit unggul rumput laut, meniru model kolaborasi Unram dan Konservasi Indonesia di Sumba Timur yang berhasil memproduksi 6 ton bibit unggul .

    • Fasilitasi pelatihan biosekuriti dan penguatan sistem pembibitan berkelanjutan bagi petani rumput laut agar mandiri dan mampu menjaga kualitas genetik .

  3. Pembangunan Infrastruktur Pendukung:

    • Bangun atau revitalisasi cold storage dan pabrik es di sentra-sentra perikanan, mengacu pada prioritas pengembangan di Riau yang menekankan pentingnya pabrik es untuk meningkatkan kapasitas produksi .

    • Kembangkan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang representatif di kabupaten/kota pesisir seperti Mamuju, Pasangkayu, Majene, dan Polewali Mandar.

  4. Fasilitasi Akses Pembiayaan:

    • Jalin kerjasama dengan perbankan daerah untuk menyediakan skema kredit khusus bagi nelayan dan pembudidaya ikan dengan bunga ringan.

    • Sediakan skema penjaminan kredit untuk mengurangi risiko perbankan, mengingat sektor perikanan memiliki risiko tinggi terkait cuaca dan fluktuasi harga.

C. Jangka Panjang (1-3 Tahun) - Hilirisasi dan Ekspansi Pasar

  1. Pengembangan Hilirisasi Produk Perikanan:

    • Bangun unit pengolahan ikan modern untuk menghasilkan produk bernilai tambah (fillet beku, ikan kaleng, olahan rumput laut) yang siap ekspor, sejalan dengan tema hilirisasi dalam Sulbar EXPO 2024 .

    • Fasilitasi sertifikasi produk (HACCP, halal, BPOM) untuk memenuhi standar pasar internasional dan nasional.

  2. Pengembangan Pasar Ekspor:

    • Manfaatkan peran Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Sulbar untuk membuka peluang ekspor yang lebih luas, sebagaimana ditegaskan dalam sambutan perwakilan Kepala Badan Karantina Indonesia .

    • Ikuti pameran dagang internasional untuk mempromosikan produk perikanan unggulan Sulbar.

  3. Integrasi dengan Sektor Lain:

    • Kembangkan wisata edukatif dan kuliner berbasis hasil perikanan, seperti wisata belajar budidaya rumput laut atau wisata kuliner seafood, meniru model integrated aquaculture business yang dikembangkan di berbagai daerah .

    • Sinergikan dengan program pengembangan BUMDes di desa-desa pesisir untuk menciptakan ekosistem ekonomi yang terintegrasi.

  4. Optimalisasi Kontribusi PAD:

    • Targetkan setoran dividen dari pengelolaan sektor perikanan dalam jangka waktu 3-5 tahun, dengan indikator keberhasilan berupa peningkatan PAD dari sektor kelautan dan perikanan.

    • Alokasikan sebagian laba untuk program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) di wilayah pesisir, memastikan masyarakat sekitar merasakan manfaat langsung.


MATRIKS STRATEGI DAN TARGET KONTRIBUSI

TahapStrategiTargetIndikator Keberhasilan
Jangka Pendek (3-6 bulan)Konsolidasi dan perencanaanRencana bisnis selesai, forum koordinasi terbentukDokumen kajian, MoU kerjasama
Jangka Menengah (6-12 bulan)Pengembangan unit usaha penampungan dan distribusiUnit penampungan beroperasi di 2-3 kabupatenVolume ikan tertampung, omzet penjualan
Pengembangan budidaya rumput lautProduksi bibit unggul 5-10 tonJumlah petani binaan, produktivitas lahan
Pembangunan infrastrukturCold storage beroperasi di 2 lokasiKapasitas penyimpanan, utilisasi
Jangka Panjang (1-3 tahun)Hilirisasi produkUnit pengolahan beroperasiJumlah produk olahan, nilai tambah
Pasar eksporEkspor perdana ke negara tujuanVolume ekspor, devisa
Kontribusi PAD (3-5 tahun)Dividen dan pajak5-10% dari total PAD sektor perikananRealisasi setoran dividen

KESIMPULAN

Sektor perikanan dan kelautan Provinsi Sulawesi Barat memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai salah satu penopang utama perekonomian daerah dan sumber Pendapatan Asli Daerah. Sebagaimana ditegaskan dalam Sulbar EXPO 2024, penguatan strategi hilirisasi dan perluasan pasar ekspor komoditas perikanan menjadi kunci untuk mewujudkan transformasi ekonomi yang inklusif di Sulawesi Barat .

Pengalaman keberhasilan dari berbagai daerah menunjukkan bahwa optimalisasi BUMD/BUMDes di sektor perikanan dapat dilakukan melalui:

  1. Perbaikan proses bisnis dengan pendekatan Business Process Management 

  2. Strategi community-based management untuk penampungan dan distribusi ikan 

  3. Kolaborasi lintas lembaga untuk pengembangan budidaya rumput laut 

  4. Penguatan infrastruktur dan tata kelola aset 

PT Sulawesi Barat Malaqbi (Perseroda) memiliki peluang strategis untuk mengambil peran aktif dalam pengelolaan sektor ini. Dengan komitmen politik yang kuat dari Gubernur dan DPRD, dukungan anggaran yang memadai, serta manajemen BUMD yang profesional dan transparan, Perseroda Sulbar dapat menjadi instrumen penting dalam mengelola kekayaan laut Sulbar untuk kemakmuran masyarakat.

Keberhasilan ini pada gilirannya akan mewujudkan visi "Sulawesi Barat Maju dan Malaqbi" —maju dalam ekonomi dan sejahtera dalam kehidupan masyarakat pesisir.


DAFTAR PUSTAKA

Balai Penerapan Standar Instrumen Pertanian Sulawesi Barat. (2024). BSIP Sulbar Hadiri Sulbar EXPO 2024. Kementerian Pertanian RI. 

DPRD Provinsi Riau. (2025). Komisi III DPRD Riau Mengadakan RDP Bahas Realisasi Program, Kendala Aset, Tata Kelola BMD. Pemerintah Provinsi Riau. 

Izzaty, N., Lufika, R. D., & Amalia, F. (2024). Optimalisasi Proses Bisnis Badan Usaha Milik Desa (BUMD) Menggunakan Business Process Management: Studi Kasus Pada Penjualan Ikan di Banda Aceh. Jurnal PASTI, 18(1). Universitas Mercu Buana. 

Wahyudi, W., & Rosmayati, S. (2025). Strategi Community-Based Management untuk Optimalisasi Penampungan dan Distribusi Ikan Studi pada BUMDes Pesona Bengara. Jurnal Ekobis Dewantara, 8(2). Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa. 

Suara NTB. (2025). Kolaborasi Unram, Konservasi Indonesia, dan BUMDes Kaliuda Pulihkan Harapan Petani Sumba Timur

Novitasari, A. D., & Irianto, H. (2022). Optimalisasi Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Melalui Pengelolaan Produksi Ikan Bandeng di Desa Kalanganyar Kecamatan Sedati Kabupaten Sidoarjo. Jurnal Administrasi Publik dan Ilmu Komunikasi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Badai Timur Tengah: Analisis Dampak Perang Iran-AS terhadap Ekonomi Indonesia di April 2026

  Pendahuluan: Ketika Timur Tengah Bergolak, Indonesia Ikut Bergetar Maret 2026 akan tercatat sebagai bulan yang menegangkan bagi perekonomian global. Eskalasi konflik antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel yang memanas sejak akhir Februari telah menciptakan gelombang kejut yang merambat ke seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia. Serangan terkoordinasi yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, memicu respons balasan berupa penutupan Selat Hormuz—jalur vital yang menangani seperlima pasokan minyak global—serta serangan terhadap kapal tanker minyak yang melintas di kawasan tersebut . Memasuki April 2026, dampak dari konflik ini semakin nyata terasa di Tanah Air. Pemerintah melalui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto telah memetakan berbagai skenario, dari yang moderat hingga skenario terburuk jika perang berlarut hingga 10 bulan . Artikel ini akan menganalisis secara mendalam bagaimana perang Iran-AS mempengaruhi perekonomian I...

Konversi Motor BBM ke Listrik, Bagaimana kesiapan daerah Sulbar?

  Presiden Prabowo Subianto telah membentuk  Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Transisi Energi  yang dipimpin langsung oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia  . Satgas ini bertugas mempercepat implementasi program transisi energi, termasuk konversi sepeda motor konvensional menjadi motor listrik. Menteri Bahlil menegaskan bahwa konversi motor BBM ke listrik merupakan salah satu strategi pemerintah untuk mengurangi polusi sekaligus mendorong transisi energi dari energi fosil ke energi terbarukan  . Namun yang lebih penting, program ini dirancang untuk  mengurangi ketergantungan pada impor BBM  yang setiap tahun meningkat dan menggerus APBN  . Target Ambisius dan Insentif Pemerintah Presiden menargetkan implementasi program konversi dapat berjalan maksimal dalam waktu  tiga hingga empat tahun , bahkan diharapkan bisa terealisasi lebih cepat  . Pemerintah menargetkan konversi hingga  6 juta unit motor per tahun  dari total populasi 120...

Rp190 Triliun Berputar di Ramadan 2026: Bukti Daya Beli Masyarakat Menggeliat?

Pendahuluan: Geliat Ekonomi di Bulan Penuh Berkah Ramadan dan Idulfitri selalu menjadi momentum istimewa bagi perekonomian Indonesia. Lebih dari sekadar bulan ibadah, ia adalah periode di mana uang mengalir deras—dari pasar tradisional hingga mal modern, dari warung pinggir jalan hingga platform e-commerce. Tahun 2026 ini, perputaran uang selama bulan suci dan hari raya diproyeksikan mencapai angka yang fantastis:  Rp190 triliun . Angka ini bukan sekadar statistik. Ia adalah cermin dari denyut nadi ekonomi masyarakat. Dibandingkan tahun lalu yang "hanya" Rp160 triliun, terjadi lonjakan signifikan sebesar  18,75 persen . Pertanyaannya, apa arti kenaikan ini? Apakah ini sinyal kuat bahwa daya beli masyarakat mulai pulih, atau hanya euforia sesaat yang ditopang oleh momen tahunan? Babak I: Rp190 Triliun—Sebesar Apa Sih? Mari kita taruh angka ini dalam perspektif. Rp190 triliun setara dengan: Sekitar  1,3% dari Produk Domestik Bruto (PDB) tahunan Indonesia . Lebih besar dari ...