Langsung ke konten utama

Postingan

Selamat datang di blog pribadi saya.

Melalui blog ini, saya membagikan berbagai tulisan, informasi, dan edukasi seputar kelistrikan sebagai bagian dari upaya sosialisasi kepada masyarakat. Ini merupakan wujud tanggung jawab dan komitmen saya dalam menjalankan tugas sebagai Pejabat Fungsional Inspektur Ketenagalistrikan di lingkungan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Sulawesi Barat. Semoga informasi yang saya sajikan dapat memberikan manfaat, menambah wawasan, serta mendorong terciptanya pemahaman dan kesadaran masyarakat akan pentingnya keselamatan, efisiensi, dan keberlanjutan dalam penggunaan energi listrik. Salam hormat, Farid Asyhadi Pejabat Fungsional Inspektur Ketenagalistrikan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Sulawesi Barat
Postingan terbaru

Harga BBM Naik, Saatnya WFH? Menimbang Opsi Penghematan Energi di Tengah Krisis Global

  Pendahuluan: Ketika Timur Tengah Bergolak, Dampaknya Sampai ke SPBU Maret 2026 menjadi bulan yang menegangkan bagi perekonomian global. Konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang memanas sejak akhir Februari telah memicu lonjakan harga minyak dunia hingga menembus  US$ 100 per barel  untuk pertama kalinya sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022  . Harga minyak yang melonjak sekitar 25 persen ini langsung berimbas pada harga bahan bakar minyak (BBM) di berbagai negara, terutama yang bergantung pada impor. Di tengah situasi ini, muncul pertanyaan: apakah Indonesia perlu menerapkan kebijakan  work from home (WFM)  atau kerja dari rumah sebagai langkah penghematan energi? Beberapa negara tetangga sudah lebih dulu mengambil langkah ekstrem. Artikel ini akan mengulas situasi terkini, perbandingan dengan negara lain, serta opsi kebijakan yang sedang dipertimbangkan pemerintah Indonesia. Babak I: Gelombang Krisis Energi Melanda Asia Pakistan: 50% Peker...

Rp190 Triliun Berputar di Ramadan 2026: Bukti Daya Beli Masyarakat Menggeliat?

Pendahuluan: Geliat Ekonomi di Bulan Penuh Berkah Ramadan dan Idulfitri selalu menjadi momentum istimewa bagi perekonomian Indonesia. Lebih dari sekadar bulan ibadah, ia adalah periode di mana uang mengalir deras—dari pasar tradisional hingga mal modern, dari warung pinggir jalan hingga platform e-commerce. Tahun 2026 ini, perputaran uang selama bulan suci dan hari raya diproyeksikan mencapai angka yang fantastis:  Rp190 triliun . Angka ini bukan sekadar statistik. Ia adalah cermin dari denyut nadi ekonomi masyarakat. Dibandingkan tahun lalu yang "hanya" Rp160 triliun, terjadi lonjakan signifikan sebesar  18,75 persen . Pertanyaannya, apa arti kenaikan ini? Apakah ini sinyal kuat bahwa daya beli masyarakat mulai pulih, atau hanya euforia sesaat yang ditopang oleh momen tahunan? Babak I: Rp190 Triliun—Sebesar Apa Sih? Mari kita taruh angka ini dalam perspektif. Rp190 triliun setara dengan: Sekitar  1,3% dari Produk Domestik Bruto (PDB) tahunan Indonesia . Lebih besar dari ...

Berkah Ramadan di Maret: Seberapa Kuat Dorongannya bagi Ekonomi Indonesia?

  Pendahuluan: Ketika Bulan Suci Menjadi Momentum Ekonomi Maret 2026 menjadi bulan istimewa bagi perekonomian Indonesia. Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, seluruh rangkaian ibadah dan perayaan Ramadan hingga Idulfitri terkonsentrasi penuh pada kuartal pertama tahun ini. Idulfitri 1447 Hijriah yang jatuh pada 20 Maret 2026 menciptakan fenomena langka: siklus konsumsi masyarakat yang biasanya terbagi antara kuartal I dan II kini menyatu dalam satu periode. Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menyebut momen ini sangat strategis. "Seluruh siklus konsumsi, mulai dari pencairan THR, peningkatan belanja rumah tangga hingga arus mudik, terkonsentrasi di kuartal I sehingga menciptakan dorongan ekonomi yang lebih kuat dibandingkan pola historis biasa," ujarnya  . Pertanyaannya, seberapa besar sebenarnya dampak Ramadan dan Lebaran 2026 terhadap pertumbuhan ekonomi nasional? Mari kita bedah secara mendalam. Babak I: Rp190 Triliun Mengalir, Rekor Baru Perputaran...