Langsung ke konten utama

Langkah Pemprov Sulbar Maksimalkan Tambang Logam Tanah Jarang di Mamuju

 



Di perut bumi Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, tersimpan kekayaan yang tak ternilai: logam tanah jarang (LTJ). Komoditas strategis ini kini menjadi sorotan, tak hanya di tingkat daerah, tetapi juga nasional. Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat di bawah kepemimpinan Gubernur Suhardi Duka dan Wakil Gubernur Salim S. Mengga bergerak cepat. Tak ingin sekadar menjadi penonton, mereka menyiapkan panggung agar "harta karun" ini benar-benar menjadi berkah bagi masyarakat.

Dari Mamuju untuk Dunia

Geliat pengolahan LTJ di Mamuju bukan lagi sekadar wacana. Pemerintah pusat melalui Badan Industri Mineral (BIM) tengah menyiapkan pengembangan teknologi hilirisasi mineral tanah jarang. Sebuah proyek percontohan (pilot project) akan dibangun di Mamuju, lengkap dengan dua fasilitas industri hilir yang fokus pada riset dan teknologi pemisahan serta pemurnian LTJ.

Kepala BIM, Brian Yuliarto, menegaskan bahwa langkah ini adalah pembuktian. "Kita ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia bisa menjadi pemain strategis dalam REE (rare earth elements)," ujarnya. Harapannya, kehadiran proyek ini dapat menarik minat negara lain untuk ikut membangun industri hilir di Indonesia.

Dalam skema nasional, izin usaha pertambangan LTJ di Mamuju direkomendasikan untuk dikelola oleh PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas), sebuah BUMN anyar bentukan Danantara. Pemerintah pusat pun mendorong agar daerah terlibat aktif.

Diplomasi Daerah dan Arahan Prioritas

Pemerintah Provinsi Sulbar tidak tinggal diam. Gubernur Suhardi Duka secara aktif membangun komunikasi dan advokasi ke pemerintah pusat. Di Jakarta, ia bertemu Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani untuk memaparkan potensi strategis Sulbar, dengan LTJ sebagai salah satu unggulan.

"Kami sadar daerah tak bisa jalan sendiri. Tapi, kami tidak datang hanya minta, kami datang dengan kesiapan dan niat kerja bersama," tegas Gubernur Suhardi. Baginya, potensi LTJ harus memberi dampak nyata, bukan sekadar angka di atas kertas.

Komitmen ini diperkuat di internal pemerintahan. Gubernur secara eksplisit mengarahkan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk menjadikan pengelolaan tambang LTJ sebagai program prioritas. Arahan tersebut disampaikan dalam pemaparan program kerja tahun 2026, di mana Gubernur menekankan pentingnya implementasi visi-misi Panca Daya.

"Program ini harus betul-betul menyentuh kebutuhan rakyat dan mendukung percepatan pembangunan serta peningkatan kesejahteraan masyarakat," pesannya.

Tata Kelola, Lingkungan, dan Riset

Meskipun kewenangan penerbitan izin usaha pertambangan berada di tangan pusat melalui mekanisme lelang, Pemprov Sulbar tidak kehilangan akal. Peran sebagai pengawas dan penjaga kepentingan publik tetap dijalankan. Dinas ESDM Sulbar, misalnya, terus memastikan agar aspek ekologis, sosial, dan kesehatan masyarakat tidak terabaikan. Komitmen ini diperkuat dengan rencana penyusunan dokumen teknis termasuk Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) yang melibatkan semua pihak.

Tak hanya itu, kolaborasi riset pun digalakkan. Sekretaris Bapperida Sulbar, Darwis Damir, mendorong penguatan riset bersama Dinas ESDM. Tujuannya jelas: agar pengelolaan LTJ di masa depan tidak hanya mengandalkan potensi, tetapi juga data dan kajian ilmiah yang akurat.

Prospek Ekonomi dan Harapan Masa Depan

Apa arti semua ini bagi Sulbar? Jawabannya terletak pada angka. Berdasarkan analisis BIM, Indonesia berpotensi mengantongi nilai pasar dari hilirisasi LTJ hingga US$7,42 miliar atau sekitar Rp124,76 triliun pada 2030. Angka ini bisa membengkak jika mineral ikutan seperti besi dan titanium ikut dimanfaatkan.

Bagi Sulbar, masuknya investasi dan pengelolaan profesional diharapkan membuka lapangan kerja baru dan memicu pertumbuhan ekonomi, khususnya di Kabupaten Mamuju. Lebih dari itu, yang diperjuangkan Pemprov adalah agar kekayaan ini benar-benar dirasakan oleh masyarakat Bumi Manakarra.

Dengan fondasi diplomasi, regulasi, dan riset yang tengah diletakkan, Sulbar tak hanya bersiap menjadi bagian dari rantai pasok global, tetapi juga memastikan bahwa cahaya "harta karun" Mamuju menerangi warganya sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cek Kondisi Instalasi Listrik Jelang Hari Raya: Upaya Preventif untuk Menghindari Risiko Kebakaran di Rutan Rembang

  Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1444 H, Rutan Kelas IIB Rembang Kanwil Kemenkumham Jawa Tengah melakukan langkah antisipasi dengan melakukan pengecekan menyeluruh terhadap instalasi listrik di seluruh bangunan kantor dan blok hunian. Kepala SubSeksi Pengelolaan, Sugito, bersama petugas Pengelola Barang Milik Negara, memimpin inspeksi yang bertujuan memastikan semua instalasi listrik aman dan berfungsi dengan baik, terutama di titik-titik rawan yang berpotensi menimbulkan konsleting dan kebakaran . Langkah ini merupakan tindak lanjut dari Surat Edaran Sekretaris Jenderal Kemenkumham yang menginstruksikan seluruh unit pelaksana teknis untuk melakukan deteksi dini dan antisipasi gangguan keamanan menjelang cuti bersama dan libur Hari Raya. Selain pengecekan instalasi, pihak Rutan juga memasang fire block atau alat pemadam api di titik-titik kritis sebagai upaya pencegahan kebakaran . Kegiatan pengecekan instalasi listrik ini sejalan dengan anjuran umum bagi masyarakat untuk secara ru...

Thorium Sulbar: Kunci Energi Masa Depan untuk Pusat Data AI Dunia

  Potensi Besar di Balik Logam Tanah Jarang Mamuju Di balik gempita pengelolaan logam tanah jarang (LTJ) di Mamuju, Sulawesi Barat, tersimpan potensi lain yang tak kalah strategis: thorium. Unsur radioaktif ini, yang selama ini dikenal sebagai limbah dalam pertambangan LTJ, kini mulai dilirik sebagai sumber energi masa depan yang sangat menjanjikan, terutama untuk mendukung kebutuhan listrik pusat data kecerdasan buatan (AI) dunia. Thorium: Solusi Energi Berkelanjutan untuk Era AI Revolusi kecerdasan buatan telah memicu lonjakan kebutuhan pusat data di seluruh dunia. Teknologi AI seperti ChatGPT dan berbagai model pembelajaran mesin lainnya membutuhkan daya komputasi luar biasa besar. Akibatnya, konsumsi listrik pusat data global melonjak drastis. International Energy Agency (IEA) mencatat bahwa pusat data global mengonsumsi sekitar 460 TWh pada 2022, dan angka ini diproyeksikan meningkat dua kali lipat pada 2026. Di sinilah thorium menemukan relevansinya. Berbeda dengan ur...

Tantangan dan Peran Remaja Indonesia dalam Hemat Energi Menuju Masa Depan Berkelanjutan

  Energi listrik merupakan kebutuhan vital dalam kehidupan modern. Namun, kesadaran untuk menghemat energi—khususnya listrik—masih tergolong rendah, terutama di kalangan remaja Indonesia. Remaja yang berada pada rentang usia 12 hingga 24 tahun tumbuh di era digital dengan ketergantungan tinggi terhadap perangkat elektronik seperti smartphone, laptop, dan konsol game. Sebuah survei menunjukkan bahwa 95% remaja Indonesia memiliki akses ke ponsel pintar dan lebih dari 60% di antaranya menggunakannya selama lebih dari enam jam setiap hari (Arius, 2023). Pola konsumsi listrik ini tentu memberi tekanan besar terhadap sistem energi nasional, terutama dalam konteks transisi energi dan keberlanjutan lingkungan. Akar Masalah Konsumsi Energi di Kalangan Remaja Salah satu akar persoalan rendahnya kesadaran hemat energi di kalangan remaja adalah karena mereka umumnya belum menjadi penanggung jawab langsung atas biaya listrik di rumah. Tagihan listrik dipersepsikan sebagai “urusan orang tua”,...