Dinamika hubungan dagang Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump memang kerap menghadirkan kejutan bagi mitra dagangnya di berbagai belahan dunia. Kebijakan tarif yang kerap berubah arah sempat menimbulkan kekhawatiran di banyak negara, termasuk Indonesia. Namun di tengah riak ketidakpastian itu, angin segar justru berembus kencang bagi Sulawesi Barat.
Alih-alih terperangkap dalam pusaran perang tarif yang merugikan, Indonesia justru bergerak maju dengan pendekatan diplomasi yang lebih cerdas. Pada pertengahan Februari 2026, Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump mencapai kesepakatan strategis yang membuka pintu investasi Amerika Serikat di sektor mineral kritikal Indonesia. Salah satu poin paling penting dalam kesepakatan tersebut adalah komitmen Indonesia untuk membuka peluang seluas-luasnya bagi perusahaan AS berinvestasi dalam pengembangan logam tanah jarang, termasuk di wilayah Mamuju, Sulawesi Barat .
Keuntungan Sulbar di Era Kesepakatan Baru
Apa arti kesepakatan ini bagi Sulbar? Lebih dari sekadar seremoni diplomatik, perjanjian bilateral tersebut menjadi pintu masuk bagi investasi dan transfer teknologi yang selama ini dinanti. Amerika Serikat, sebagai salah satu negara dengan kebutuhan tinggi terhadap mineral kritis untuk industri pertahanan dan teknologi hijau, melihat Indonesia—khususnya Sulbar—sebagai mitra strategis dalam rantai pasok global.
Kesepakatan Prabowo-Trump pada Februari 2026 menegaskan bahwa logam tanah jarang di Mamuju tidak lagi sekadar menjadi perbincangan di kalangan peneliti, tetapi telah naik kelas menjadi komoditas geopolitik yang diperhitungkan dunia. Bagi Sulbar, ini berarti masuknya investasi berskala global, transfer teknologi pengolahan yang selama ini dikuasai segelintir negara, dan pada gilirannya membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat lokal .
Potensi Raksasa yang Tersimpan di Bumi Sulbar
Logam Tanah Jarang: Harta Karun Mamuju
Kawasan Mamuju, Sulawesi Barat, telah lama diketahui menyimpan potensi logam tanah jarang yang signifikan. Peneliti dari Universitas Gadjah Mada, Dr. Eng. Ir. Lucas Donny Setijadji, M.Sc., mengungkapkan bahwa penelitian di wilayah ini sebenarnya telah dimulai sejak 2008 melalui kerja sama Indonesia–Jepang yang didanai JICA. Awalnya, kawasan ini diteliti karena adanya anomali radioaktif oleh Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). Dalam perkembangannya, penelitian lanjutan mengungkap kandungan logam tanah jarang yang tinggi di wilayah tersebut .
Menteri Transmigrasi, Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara, bahkan telah merencanakan penerjunan 105 peneliti dari berbagai universitas ternama seperti ITB, UI, dan IPB untuk mengkaji potensi logam tanah jarang di Sulbar. "Rare Earth ke depan itu akan menjadi salah satu hasil pertambangan yang paling dicari. Karena nanti diurai itu akan banyak manfaatnya, baik untuk kebutuhan pesawat, ruang angkasa, dan juga teknologi lainnya," jelasnya .
Thorium dan Uranium: Energi Masa Depan
Tak hanya logam tanah jarang, Sulbar juga menyimpan potensi mineral radioaktif seperti uranium dan thorium. Berdasarkan data dari Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sulbar, provinsi ini memiliki cadangan mineral radioaktif yang tersebar di sejumlah wilayah . Thorium, khususnya, kini menjadi primadona baru sebagai bahan bakar nuklir yang lebih aman dan ramah lingkungan dibanding uranium konvensional. Di era transisi energi global, potensi ini menjadi nilai tawar tersendiri bagi Sulbar di mata investor internasional.
Kekayaan Tambang Lainnya
Kepala DPMPTSP Sulbar, Habibi Azis, mengungkapkan bahwa dari hasil survei, Sulbar terbukti memiliki cadangan bahan galian yang cukup besar dan beragam. Mulai dari batubara, bijih besi, emas, tembaga, galena, hingga mangan dengan kadar 35-45 persen di wilayah Bonehau dan Kalumpang, Kabupaten Mamuju. Selain itu, terdapat juga bahan galian bukan logam seperti zeolit, granit, marmer, pasir kuarsa, dan batugamping .
"Jadi, kadar batu mangan yang ada di wilayah Bonehau dan Kalumpang, Kabupaten Mamuju, ini ada sekitar 35 persen sampai 45 persen. Itu merupakan potensi yang sangat luar biasa yang kita miliki dan belum banyak orang yang ketahui," ujar Habibi Azis .
Potensi Perkebunan Sawit dan CPO
Di luar sektor tambang, Sulbar juga memiliki potensi besar di sektor perkebunan, termasuk kelapa sawit dan Crude Palm Oil (CPO). Meskipun belum menjadi sorotan utama seperti logam tanah jarang, pemerintah daerah terus mendorong hilirisasi di sektor perkebunan, termasuk kakao yang telah menjadi salah satu fokus utama dalam paparan Gubernur Suhardi Duka di hadapan Menteri Investasi .
Industrialisasi yang Bisa Diwujudkan di Sulbar
Kesepakatan Prabowo-Trump membuka peluang industrialisasi di Sulbar, khususnya di sektor hilirisasi mineral. Berikut adalah beberapa industri yang potensial dikembangkan:
Industri Pengolahan Logam Tanah Jarak - Investasi AS di sektor LTJ di Mamuju akan mendorong pembangunan fasilitas pemisahan dan pemurnian logam tanah jarang, mengubah bahan baku mentah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi seperti mixed rare earth atau elemen rare earth spesifik .
Industri Pengolahan Mangan - Ketertarikan investor asal Cina terhadap kandungan mangan di Sulbar membuka peluang pembangunan industri pengolahan mangan di dalam daerah.
Pembangkit Listrik Tenaga Air - Gubernur Suhardi Duka telah memaparkan potensi energi baru terbarukan dari PLTA dengan estimasi kapasitas hingga 500 Megawatt (MW), cukup untuk menopang kebutuhan energi kawasan industri masa depan .
Hilirisasi Kakao - Sulbar sebagai salah satu sentra produksi kakao nasional siap masuk tahap pengolahan industri .
Industri Pengolahan Hasil Laut - Dengan estimasi potensi 2,2 juta ton ikan laut per tahun dan realisasi tangkapan baru 64 ribu ton, sektor ini membuka ruang sangat besar untuk investasi .
Manfaat Langsung bagi Sulbar
Masuknya investasi dan industrialisasi ini akan memberikan manfaat berlipat bagi Sulbar. Sekretaris Daerah Provinsi Sulbar, Junda Maulana, menegaskan bahwa investasi diharapkan mampu menyerap tenaga kerja lokal serta mendorong hilirisasi, sehingga bahan mentah diolah di Sulbar dan memberikan nilai tambah bagi daerah.
"Kami ingin industri itu ada di Sulbar, bukan hanya mengirim bahan mentah ke luar. Paling tidak, tenaga kerja lokal terserap dan hasilnya bisa dinikmati daerah," tegas Junda saat menerima kunjungan investor asal Cina .
Gubernur Suhardi Duka juga telah memastikan komitmennya untuk membawa dampak langsung ke masyarakat. Dalam kunjungannya ke Kementerian Investasi, ia menyatakan, "Kami datang ke sini bukan hanya membawa data, tapi juga kesiapan untuk bergerak cepat. Kami butuh mitra dan fasilitasi dari pusat agar potensi-potensi ini benar-benar memberi dampak besar ke masyarakat" .
Yang Harus Disiapkan Pemprov Sulbar
Kesepakatan di level pusat dan meningkatnya minat investor tentu membawa konsekuensi pada kesiapan daerah. Ada beberapa hal yang mesti disiapkan Pemprov Sulbar:
Kesiapan Regulasi dan Perizinan
Junda Maulana menegaskan bahwa prinsip Pemprov Sulbar adalah terbuka terhadap investasi, namun dengan syarat utama: kegiatan investasi tidak boleh bertentangan dengan regulasi, terutama terkait perlindungan lingkungan hidup . Pemprov perlu memastikan bahwa peraturan daerah yang mendukung iklim investasi sekaligus melindungi kepentingan masyarakat dan lingkungan telah tersedia dan ditegakkan.
Penyediaan Infrastruktur Pendukung
Sekda Junda mengungkapkan bahwa saat ini kondisi listrik di Sulbar masih surplus, namun berpotensi mengalami kekurangan jika industri skala besar mulai beroperasi. "Kita punya potensi beberapa perusahaan besar yang ingin membangun pembangkit listrik tenaga air. Ini membutuhkan pasar, sehingga bisa berjalan paralel dengan masuknya industri," jelasnya .
Selain energi, ketersediaan pelabuhan juga menjadi perhatian. Sulbar memiliki sejumlah pelabuhan dan lokasi yang layak untuk pengembangan pelabuhan terminal khusus guna mendukung distribusi hasil industri ke luar daerah .
Penyiapan Sumber Daya Manusia
Investasi dan industrialisasi tidak akan berarti banyak jika tenaga kerja lokal tidak siap mengisi peluang kerja yang tercipta. Pemprov perlu memperkuat program pendidikan vokasi dan pelatihan kerja yang link and match dengan kebutuhan industri yang akan masuk, baik di sektor pertambangan, pengolahan, maupun energi.
Koordinasi Pusat-Daerah yang Kuat
Gubernur Suhardi Duka telah menunjukkan kepemimpinan yang kuat dalam membangun komunikasi dengan pemerintah pusat. Keberhasilannya mendapatkan dukungan anggaran Rp1,04 triliun dari APBN untuk program kesehatan, pendidikan, sosial, dan digitalisasi layanan publik pada 2026 menjadi modal berharga. Koordinasi serupa harus terus diperkuat, terutama dalam mengawal realisasi investasi di sektor logam tanah jarang yang menjadi fokus kesepakatan RI-AS.
Pemetaan Potensi yang Akurat
Kementerian Transmigrasi yang akan menerjunkan 105 peneliti dari ITB, UI, dan IPB untuk meneliti potensi logam tanah jarang di Sulbar merupakan langkah maju. Pemprov perlu memastikan bahwa data dan pemetaan yang dihasilkan benar-benar akurat dan dapat digunakan sebagai dasar pengambilan kebijakan serta penawaran investasi.
Penguatan Kelembagaan
Dinas Penanaman Modal dan PTSP Sulbar perlu diperkuat, baik dari sisi sumber daya manusia maupun kewenangan, untuk mampu melayani investor dengan cepat dan profesional. Tim teknis yang mempercepat proses perizinan dan investasi harus terus ditingkatkan kapasitasnya.
Penutup
Perang tarif dan dinamika perdagangan global bukanlah akhir dari segalanya. Sulawesi Barat, dengan kekayaan sumber daya alamnya yang luar biasa, justru berada di posisi strategis untuk menjadi salah satu tujuan utama investasi di era transisi energi dan teknologi hijau. Kesepakatan Prabowo-Trump pada Februari 2026 membuka pintu, namun kunci untuk memasuki pintu itu ada di tangan pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat Sulbar sendiri.
Optimisme yang disuarakan Gubernur Suhardi Duka dan Wakil Gubernur Salim S. Mengga bukan tanpa alasan. Dengan persiapan yang matang, koordinasi yang kuat, dan komitmen untuk menjaga keseimbangan antara investasi, lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat, Sulbar siap menyongsong lompatan besar menuju kemandirian ekonomi. Bukan lagi sebagai penonton, tetapi sebagai pemain utama di panggung investasi nasional dan global.

Komentar
Posting Komentar