Potensi Besar di Balik Logam Tanah Jarang Mamuju
Di balik gempita pengelolaan logam tanah jarang (LTJ) di
Mamuju, Sulawesi Barat, tersimpan potensi lain yang tak kalah strategis:
thorium. Unsur radioaktif ini, yang selama ini dikenal sebagai limbah dalam
pertambangan LTJ, kini mulai dilirik sebagai sumber energi masa depan yang
sangat menjanjikan, terutama untuk mendukung kebutuhan listrik pusat data
kecerdasan buatan (AI) dunia.
Thorium: Solusi Energi Berkelanjutan untuk Era AI
Revolusi kecerdasan buatan telah memicu lonjakan kebutuhan
pusat data di seluruh dunia. Teknologi AI seperti ChatGPT dan berbagai model
pembelajaran mesin lainnya membutuhkan daya komputasi luar biasa besar.
Akibatnya, konsumsi listrik pusat data global melonjak drastis. International
Energy Agency (IEA) mencatat bahwa pusat data global mengonsumsi sekitar 460
TWh pada 2022, dan angka ini diproyeksikan meningkat dua kali lipat pada 2026.
Di sinilah thorium menemukan relevansinya. Berbeda dengan
uranium yang digunakan dalam reaktor nuklir konvensional, thorium menawarkan
sejumlah keunggulan:
- Limpahan
Cadangan: Indonesia, khususnya di Mamuju, memiliki cadangan thorium
yang signifikan sebagai ikutan dari logam tanah jarang.
- Limbah
Minimal: Reaktor berbasis thorium menghasilkan limbah radioaktif jauh
lebih sedikit dibandingkan reaktor uranium konvensional.
- Keamanan
Lebih Tinggi: Thorium tidak dapat langsung digunakan untuk senjata
nuklir, sehingga lebih aman dari sisi proliferasi.
- Efisiensi
Tinggi: Teknologi reaktor thorium generasi baru, seperti Molten
Salt Reactor (MSR), menawarkan efisiensi termal yang tinggi
dengan risiko kegagalan minimal.
Mamuju: Kombinasi Sempurna LTJ dan Thorium
Kepala Badan Industri Mineral (BIM) Brian Yuliarto
sebelumnya menegaskan bahwa proyek percontohan LTJ di Mamuju ditujukan untuk
membuktikan kemampuan Indonesia sebagai pemain strategis global. Namun, yang
sering luput dari perhatian adalah potensi thorium yang menyertainya.
"Kita ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia
bisa menjadi pemain strategis dalam REE (rare earth elements),"
ujar Brian. Kini, pernyataan itu bisa diperluas: Indonesia juga berpotensi
menjadi pemain kunci dalam energi masa depan berbasis thorium.
Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka, menyadari betul
potensi ini. Dalam berbagai pertemuan dengan pemerintah pusat, ia secara
konsisten memaparkan potensi strategis Sulbar, termasuk kemungkinan
pengembangan thorium sebagai sumber energi.
"Kami sadar daerah tak bisa jalan sendiri. Tapi, kami
tidak datang hanya minta, kami datang dengan kesiapan dan niat kerja
bersama," tegasnya, menggambarkan kesiapan Sulbar untuk menjadi bagian
dari solusi energi nasional maupun global.
Dukungan Infrastruktur dan Riset
Langkah Pemprov Sulbar untuk mendorong kolaborasi riset
antara Dinas ESDM dan Bapperida menjadi fondasi penting. Sekretaris Bapperida
Sulbar, Darwis Damir, secara khusus mendorong penguatan kolaborasi ini untuk
memastikan bahwa pengelolaan LTJ dan potensi thorium didasarkan pada data dan
riset yang akurat.
Dengan pendekatan berbasis riset ini, Sulbar tidak hanya
akan menambang dan mengekspor bahan mentah, tetapi juga membangun ekosistem
industri yang terintegrasi. Mulai dari pemisahan LTJ hingga pengembangan
teknologi reaktor thorium untuk pembangkit listrik.
Visi Masa Depan: Sulbar sebagai Pusat Data Ramah
Lingkungan
Bayangkan skenario ini: listrik yang dihasilkan dari thorium
Mamuju mengaliri pusat-pusat data AI yang dibangun di kawasan timur Indonesia.
Dengan biaya listrik yang kompetitif dan pasokan yang stabil, Sulbar bisa
menjadi destinasi menarik bagi raksasa teknologi global seperti Google,
Microsoft, atau Amazon untuk membangun pusat data mereka.
Ini bukan sekadar impian. Beberapa negara seperti China dan
India sudah serius mengembangkan teknologi reaktor thorium. Indonesia, dengan
cadangan thorium melimpah di Mamuju, memiliki posisi tawar strategis untuk
melompat ke teknologi ini, sekaligus mendukung target net zero emission.
Peran Pemerintah Pusat dan Daerah
Pemerintah pusat melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional
(BRIN) sebenarnya telah melakukan kajian mengenai potensi thorium di Indonesia.
Hasilnya menunjukkan bahwa cadangan thorium Indonesia cukup signifikan, dengan
sebaran utama di Bangka Belitung, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Barat.
Namun, untuk mewujudkan visi thorium sebagai energi masa
depan, diperlukan sinergi kuat antara pusat dan daerah. Pemerintah Provinsi
Sulbar, dengan komitmen yang sudah ditunjukkan dalam pengelolaan LTJ, siap
menjadi ujung tombak pengembangan thorium di tingkat tapak.
Penutup: Menuju Kedaulatan Energi Berbasis Sumber Daya
Lokal
Potensi thorium di Mamuju bukan sekadar "harta
karun" yang terkubur. Ia adalah kunci menuju kemandirian energi sekaligus
peluang untuk menjadi pemain penting dalam revolusi AI global. Dengan diplomasi
yang tepat ke pemerintah pusat, penguatan riset daerah, serta kolaborasi dengan
pelaku industri teknologi global, Sulbar bisa bertransformasi dari sekadar
daerah penghasil bahan mentah menjadi pusat energi masa depan yang mendukung
peradaban digital dunia.
Di sinilah letak pentingnya langkah Pemprov Sulbar saat ini.
Bukan hanya memastikan logam tanah jarang dikelola dengan baik, tetapi juga
membuka mata dunia bahwa di Bumi Manakarra, tersimpan energi yang siap
menerangi era kecerdasan buatan.

Komentar
Posting Komentar