Hamparan kebun kelapa sawit membentang luas di Sulawesi Barat. Dari Kabupaten Mamuju, Mamuju Tengah, hingga Pasangkayu, tandan buah segar (TBS) menggantung lebat, menjadi denyut nadi ekonomi ribuan keluarga. Namun di balik hijaunya lanskap itu, terselip satu pertanyaan strategis: mampukah Sulawesi Barat mengubah limpahan sawitnya menjadi kemandirian energi?
Provinsi yang berdiri pada 2004 ini menyimpan potensi yang tidak kecil. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2022 mencatat luas kebun sawit menghasilkan di Sulbar mencapai 73.578 hektare. Dari luasan tersebut, produksi TBS diperkirakan menembus 1,84 juta ton per tahun, yang dapat diolah menjadi sekitar 370–400 ribu ton minyak sawit mentah (CPO). Angka ini menempatkan Sulbar sebagai salah satu lumbung sawit utama di Indonesia Timur.
Namun hingga kini, mayoritas CPO tersebut masih mengalir keluar daerah dalam bentuk bahan mentah. Nilai tambahnya dinikmati di tempat lain. Padahal, jika diolah menjadi biodiesel, hampir 400 ribu ton CPO per tahun dapat menjadi fondasi bagi kemandirian bahan bakar minyak (BBM) regional.
Hulu Melimpah, Hilir Masih Impian
Momentum nasional sesungguhnya sedang berpihak. Pemerintah mendorong implementasi mandatori biodiesel hingga B50 pada 2029. Pada 2026, alokasi biodiesel nasional diproyeksikan mencapai 15,65 juta kiloliter. Artinya, kebutuhan bahan baku CPO untuk energi terus meningkat.
Sejumlah daerah telah bergerak. Di Kalimantan Timur, kilang hijau di kawasan ekonomi khusus Maloy mulai beroperasi. Di Sulawesi, gagasan Sulawesi Palm Oil Belt mengemuka, termasuk rencana alokasi lahan hingga 120.000 hektare di Sulbar yang terintegrasi dengan kawasan industri dan fasilitas hilirisasi.
Pemprov Sulbar harus mendorong pembangunan kilang biodiesel berkapasitas 200.000 ton per tahun di Mamuju. Proyek ini diarahkan untuk menyerap surplus CPO lokal sekaligus mendukung program B40–B50 nasional yang diproyeksikan menghemat devisa hingga Rp139 triliun secara nasional.
Bagi Sulbar, langkah ini bukan sekadar proyek industri. Ia adalah lompatan strategis dari ekonomi berbasis komoditas mentah menuju ekonomi berbasis nilai tambah.
Potensi Ekonomi yang Menggoda
Jika direalisasikan, kilang biofuel di Sulbar berpotensi:
-
Menciptakan hingga 5.000 lapangan kerja langsung dan ribuan efek berganda.
-
Meningkatkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) 15–20 persen dalam beberapa tahun pertama.
-
Menghemat devisa daerah hingga Rp2–3 triliun per tahun dari pengurangan impor solar.
-
Menurunkan emisi 1–2 juta ton CO₂e per tahun melalui substitusi solar fosil.
Secara regional, Sulbar bahkan dapat menyuplai 5–10 persen kebutuhan biodiesel di Pulau Sulawesi. Artinya, provinsi ini berpeluang menjadi pusat energi hijau Indonesia Timur.
Tantangan Ekologis dan Infrastruktur
Namun, mimpi besar selalu datang bersama tantangan besar.
Secara ekologis, perlu dihindari ekspansi lahan baru yang berpotensi memicu deforestasi dan konflik agraria. Fokus harus diarahkan pada peningkatan produktivitas kebun eksisting melalui bibit unggul dan praktik berkelanjutan. Standar sertifikasi seperti Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) wajib diterapkan secara ketat agar kilang tidak menjadi pintu masuk eksploitasi baru.
Dari sisi teknis, persoalan infrastruktur juga tak bisa diabaikan. Konektivitas jalan Mamuju–Pasangkayu, ketersediaan listrik yang stabil, hingga kepastian regulasi investasi menjadi prasyarat utama. Tanpa dukungan ini, proyek sebesar apa pun akan tersendat.
Integrasi dengan kawasan ekonomi khusus Mandola–Mamuju serta pemanfaatan pembangkit energi terbarukan seperti PLTS hybrid dapat menjadi solusi untuk memastikan operasional kilang tetap efisien dan ramah lingkungan.
Strategi Menuju Realisasi
Agar mimpi tak berhenti di atas kertas, beberapa langkah strategis perlu ditempuh:
-
Sinergi Daerah–Pusat
Memanfaatkan momentum kebijakan nasional B50 dan dukungan Presiden Prabowo Subianto untuk percepatan perizinan dan insentif. -
Teknologi Hijau
Mengadopsi proses transesterifikasi yang efisien dengan emisi 50 persen lebih rendah dibanding solar konvensional. -
Pemberdayaan Petani
Sekitar 70 persen kebun sawit Sulbar adalah milik rakyat. Skema plasma minimal 20 persen dan harga TBS yang adil harus menjadi bagian dari desain proyek. -
Skema Investasi Kompetitif
Menarik investasi Rp3–5 triliun melalui insentif fiskal seperti tax holiday dan kemudahan logistik.
Dari Ekspor Mentah ke Swasembada Regional
Dengan proyeksi pertumbuhan CPO hingga 10 persen pada 2026, produksi bisa menembus 440 ribu ton per tahun. Jika pembangunan dimulai 2026–2027, kilang biofuel berpotensi beroperasi pada 2028.
Transformasi ini akan mengubah wajah ekonomi Sulbar: dari sekadar penghasil bahan mentah menjadi pusat energi hijau kawasan timur. Devisa daerah menguat, emisi menurun, lapangan kerja tumbuh, dan ketergantungan pada pasokan BBM dari luar berkurang signifikan.
Pada akhirnya, pertanyaan “siap atau tidak” bergantung pada keberanian mengambil keputusan hari ini. Jika tata kelola dijalankan dengan disiplin ekologis dan dukungan infrastruktur memadai, maka Bumi Manakarra bukan hanya hijau oleh sawit—tetapi juga berdaulat dalam energi.
Kemandirian BBM bukan lagi sekadar mimpi. Ia bisa menjadi babak baru pembangunan Sulawesi Barat.

Komentar
Posting Komentar