Langsung ke konten utama

Pencabutan Subsidi Listrik: Antara Efisiensi Anggaran dan Risiko Meningkatnya Kemiskinan

 

Pencabutan subsidi listrik, khususnya bagi pelanggan 900 VA, memang menjadi salah satu langkah pemerintah untuk mengurangi beban anggaran subsidi yang terus membengkak. Data menunjukkan bahwa sejak awal 2017 tarif listrik untuk golongan ini telah naik lebih dari 100 persen, dari Rp605/kWh menjadi Rp1.352/kWh, dan rencana kenaikan tarif masih berlanjut. Pemerintah menargetkan kenaikan tarif hanya membebani rumah tangga mampu, sementara rumah tangga tidak mampu tetap menerima subsidi. Namun, dalam praktiknya, akurasi data sosial-ekonomi yang digunakan untuk menentukan kelayakan subsidi masih menjadi persoalan. Kesalahan klasifikasi dapat terjadi karena data yang digunakan tidak secara langsung memadankan kondisi sosial ekonomi dengan daya listrik yang terpasang, sehingga ada risiko subsidi tidak tepat sasaran. Kenaikan tarif listrik yang signifikan ini berpotensi menaikkan garis kemiskinan, terutama karena listrik menyumbang porsi cukup besar dalam pengeluaran rumah tangga, baik di perkotaan maupun pedesaan.

Kebijakan pencabutan subsidi listrik memang bertujuan mengalokasikan anggaran ke sektor yang lebih produktif seperti kesehatan, pendidikan, dan elektrifikasi wilayah terpencil. Namun, jika kompensasi dan bantuan sosial tidak berjalan efektif, maka dampak negatif terhadap kesejahteraan masyarakat miskin bisa meluas, bahkan memicu inflasi yang menekan daya beli rumah tangga. Tren kebijakan terbaru juga menunjukkan pemerintah lebih memilih memberikan bantuan subsidi upah yang dinilai lebih tepat sasaran dan mudah dieksekusi dibandingkan diskon listrik yang mekanisme penganggarannya rumit. Di sisi lain, risiko ketidaktepatan sasaran subsidi listrik tetap menjadi tantangan besar, yang jika tidak diatasi dapat memperbesar defisit anggaran dan memperburuk kondisi sosial ekonomi. Oleh karena itu, solusi yang perlu ditempuh adalah penguatan data terpadu dan sistem verifikasi yang akurat, serta pengembangan program kompensasi sosial yang responsif dan inklusif agar kebijakan pencabutan subsidi listrik tidak menimbulkan beban berlebih bagi masyarakat miskin dan berkontribusi pada pengurangan kemiskinan secara berkelanjutan.

Farid Asyhadi
Pejabat Fungsional Inspektur Ketenagalistrikan
Dinas ESDM Provinsi Sulawesi Barat

:

  1. Kadirsaja. “Pencabutan Subsidi Listrik Bisa Tingkatkan Jumlah Penduduk Miskin.” Kompasiana, 2017.

  2. Puskasbaznas.com. “Dampak Kerugian Pencabutan Subsidi Listrik 900 Watt terhadap Kesejahteraan Masyarakat.” 2019.

  3. Hukumonline.com. “Diskon Listrik Batal, Pemerintah Fokus pada Bantuan Subsidi Upah.” 2025.

  4. Tempo.co. “Pemerintah Prediksi Realisasi Subsidi Listrik 2025 Turun.” 2025.

  5. Tempo.co. “Subsidi Listrik 2026 Rp 104,97 Triliun Berpotensi Tak Tepat Sasaran.” 2025.

  6. Bapperida Pekalongan. “Dampak Pencabutan Subsidi Listrik.” 2015.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Thorium Sulbar: Kunci Energi Masa Depan untuk Pusat Data AI Dunia

  Potensi Besar di Balik Logam Tanah Jarang Mamuju Di balik gempita pengelolaan logam tanah jarang (LTJ) di Mamuju, Sulawesi Barat, tersimpan potensi lain yang tak kalah strategis: thorium. Unsur radioaktif ini, yang selama ini dikenal sebagai limbah dalam pertambangan LTJ, kini mulai dilirik sebagai sumber energi masa depan yang sangat menjanjikan, terutama untuk mendukung kebutuhan listrik pusat data kecerdasan buatan (AI) dunia. Thorium: Solusi Energi Berkelanjutan untuk Era AI Revolusi kecerdasan buatan telah memicu lonjakan kebutuhan pusat data di seluruh dunia. Teknologi AI seperti ChatGPT dan berbagai model pembelajaran mesin lainnya membutuhkan daya komputasi luar biasa besar. Akibatnya, konsumsi listrik pusat data global melonjak drastis. International Energy Agency (IEA) mencatat bahwa pusat data global mengonsumsi sekitar 460 TWh pada 2022, dan angka ini diproyeksikan meningkat dua kali lipat pada 2026. Di sinilah thorium menemukan relevansinya. Berbeda dengan ur...

Cek Kondisi Instalasi Listrik Jelang Hari Raya: Upaya Preventif untuk Menghindari Risiko Kebakaran di Rutan Rembang

  Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1444 H, Rutan Kelas IIB Rembang Kanwil Kemenkumham Jawa Tengah melakukan langkah antisipasi dengan melakukan pengecekan menyeluruh terhadap instalasi listrik di seluruh bangunan kantor dan blok hunian. Kepala SubSeksi Pengelolaan, Sugito, bersama petugas Pengelola Barang Milik Negara, memimpin inspeksi yang bertujuan memastikan semua instalasi listrik aman dan berfungsi dengan baik, terutama di titik-titik rawan yang berpotensi menimbulkan konsleting dan kebakaran . Langkah ini merupakan tindak lanjut dari Surat Edaran Sekretaris Jenderal Kemenkumham yang menginstruksikan seluruh unit pelaksana teknis untuk melakukan deteksi dini dan antisipasi gangguan keamanan menjelang cuti bersama dan libur Hari Raya. Selain pengecekan instalasi, pihak Rutan juga memasang fire block atau alat pemadam api di titik-titik kritis sebagai upaya pencegahan kebakaran . Kegiatan pengecekan instalasi listrik ini sejalan dengan anjuran umum bagi masyarakat untuk secara ru...

Likuiditas Melimpah, Kredit Tertahan: Membaca Lonjakan Uang Primer Indonesia 18,3% di Awal 2026

Pada Februari 2026, sistem keuangan Indonesia menunjukkan dinamika yang menarik. Data terbaru dari Bank Indonesia mencatat bahwa uang primer (M0) adjusted tumbuh 18,3% secara tahunan (year-on-year/yoy) hingga mencapai Rp2.228 triliun . Angka ini melonjak cukup tajam dibandingkan pertumbuhan pada Januari 2026 yang sebesar 14,7% yoy . Lonjakan ini memberi sinyal bahwa likuiditas dalam sistem keuangan nasional berada pada kondisi cukup longgar . Namun, di balik angka yang impresif tersebut, terdapat sejumlah dinamika ekonomi yang menarik untuk dicermati—mulai dari strategi kebijakan fiskal dan moneter, perilaku perbankan, hingga faktor musiman dalam aktivitas ekonomi masyarakat. Memahami Uang Primer (M0) Uang primer atau M0 merupakan kewajiban moneter bank sentral yang terdiri dari uang kartal yang beredar di masyarakat serta simpanan giro bank umum di Bank Indonesia . Indikator ini sering digunakan untuk melihat ketersediaan likuiditas paling dasar dalam sistem keuangan . Sement...