Langsung ke konten utama

Tagihan Listrik Membengkak dan Denda? Pertimbangkan Beralih ke Listrik Prabayar

Pengalaman pribadi menunjukkan bahwa listrik pascabayar memang memiliki keunggulan seperti tidak perlu khawatir listrik mati mendadak kecuali ada pemadaman dari PLN. Namun, kelemahannya muncul ketika ada penghuni atau pengontrak yang terlambat membayar tagihan listrik, sehingga risiko listrik diputus sangat besar dan tagihan bisa membengkak karena denda keterlambatan.

Penulis yang memiliki rumah dan ruko mengalami masalah ini karena pengontrak ruko sering telat bayar listrik, bahkan hampir menyebabkan pemutusan aliran listrik. Setelah pengontrak lama pindah, penulis memutuskan untuk mengganti sistem listrik rumah dari pascabayar ke prabayar (token listrik). Dengan sistem prabayar, penghuni atau pengontrak baru harus mengisi token listrik terlebih dahulu sebelum bisa menggunakan listrik, sehingga tagihan listrik tidak menumpuk dan risiko pemutusan listrik karena tunggakan bisa dihindari.

Keunggulan Listrik Prabayar:

  • Kontrol Penggunaan: Pengguna dapat mengatur sendiri pemakaian listrik sesuai saldo token yang dibeli, sehingga lebih hemat dan terkontrol.

  • Tanpa Tagihan Tertunda: Tidak ada risiko tagihan membengkak atau denda karena pembayaran dilakukan di muka.

  • Kemudahan Pengisian: Token listrik dapat dibeli kapan saja dan di mana saja, termasuk melalui aplikasi online.

  • Menghindari Pemutusan Listrik Mendadak: Karena listrik akan mati jika token habis, pengguna terdorong untuk mengisi ulang sebelum listrik padam secara total.

Meski ada kekurangan seperti kemungkinan kehabisan token listrik secara tiba-tiba, manfaat kontrol dan penghematan listrik membuat sistem prabayar layak dipertimbangkan, terutama bagi rumah atau tempat usaha dengan penghuni yang berganti-ganti.

Farid Asyhadi
Pejabat Fungsional Inspektur Ketenagalistrikan
Dinas ESDM Sulawesi Barat

(Sumber: Kompasiana, tulisan Sri Rohmatiah, 2023)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tantangan dan Peran Remaja Indonesia dalam Hemat Energi Menuju Masa Depan Berkelanjutan

  Energi listrik merupakan kebutuhan vital dalam kehidupan modern. Namun, kesadaran untuk menghemat energi—khususnya listrik—masih tergolong rendah, terutama di kalangan remaja Indonesia. Remaja yang berada pada rentang usia 12 hingga 24 tahun tumbuh di era digital dengan ketergantungan tinggi terhadap perangkat elektronik seperti smartphone, laptop, dan konsol game. Sebuah survei menunjukkan bahwa 95% remaja Indonesia memiliki akses ke ponsel pintar dan lebih dari 60% di antaranya menggunakannya selama lebih dari enam jam setiap hari (Arius, 2023). Pola konsumsi listrik ini tentu memberi tekanan besar terhadap sistem energi nasional, terutama dalam konteks transisi energi dan keberlanjutan lingkungan. Akar Masalah Konsumsi Energi di Kalangan Remaja Salah satu akar persoalan rendahnya kesadaran hemat energi di kalangan remaja adalah karena mereka umumnya belum menjadi penanggung jawab langsung atas biaya listrik di rumah. Tagihan listrik dipersepsikan sebagai “urusan orang tua”,...

Mengurangi Bahan Makanan Impor dalam Ompreng MBG

  Dilema di Balik Piring Bergizi Setiap pagi, jutaan piring makanan bergizi disiapkan di dapur-dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh Indonesia. Ada nasi, sayur, lauk, dan buah. Ada senyum anak-anak yang menyambutnya. Ada harapan generasi emas 2045 yang sedang dibangun melalui asupan gizi yang baik. Namun, di balik piring-piring itu, ada pertanyaan yang tak kunjung usai:  dari mana bahan-bahannya berasal? Ketika program Makan Bergizi Gratis (MBG) pertama kali diluncurkan, idealismenya begitu luhur: memberdayakan petani lokal, menghidupkan UMKM, dan mengurangi ketergantungan pada impor. Tapi perjalanan setahun terakhir menunjukkan bahwa mewujudkan idealisme itu tidak semudah membalik telapak tangan. Babak I: Fakta Pahit di Awal Perjalanan Februari 2025, baru sebulan program berjalan, kritik tajam menghantam. Dirjen Risbang Kemendikti Saintek mengungkap fakta memprihatinkan: program MBG masih  banyak menggunakan produk impor . Bukan hanya bahan baku pangan,...

Strategi Pemerintah Indonesia Menindaklanjuti Kesepakatan Tarif 19% antara Presiden Prabowo dan Presiden Donald Trump: Memperkuat Fondasi Hubungan Dagang Bilateral Indonesia–Amerika Serikat

  Kesepakatan tarif impor sebesar 19% yang dicapai antara Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Juli 2025 menjadi tonggak penting dalam sejarah hubungan dagang bilateral kedua negara. Tarif ini berlaku untuk komoditas strategis seperti produk pertanian (kedelai, gandum, dan lainnya) serta migas yang diimpor dari Amerika Serikat, menggantikan tarif sebelumnya yang mencapai 32%. Penurunan ini tidak hanya mencerminkan keberhasilan diplomasi ekonomi Indonesia, tetapi juga membuka peluang baru untuk memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional. Namun demikian, agar kesepakatan ini benar-benar memberikan dampak positif bagi perekonomian nasional, diperlukan strategi yang cermat, terpadu, dan berorientasi jangka panjang oleh Pemerintah Indonesia. 1. Memperkuat Negosiasi dan Diplomasi Ekonomi Berkelanjutan Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Energi dan Sumber Da...