Langsung ke konten utama

Menggali Makna Hidup Tanpa Listrik: Tantangan, Adaptasi, dan Peluang Energi Berkelanjutan di Indonesia

 

Tulisan "Bisakah Kita Hidup Tanpa Listrik?" mengajak kita merenungkan betapa krusialnya listrik dalam kehidupan modern. Dengan gambaran yang kuat tentang kegelapan malam tanpa listrik, terganggunya aktivitas ekonomi, dan hilangnya akses informasi, tulisan ini berhasil menegaskan bahwa listrik telah menjadi kebutuhan pokok yang tak terpisahkan. Namun, tulisan ini kurang mengangkat secara mendalam bagaimana masyarakat di daerah terpencil yang belum terjangkau listrik, seperti di beberapa pulau kecil dan pedesaan di Indonesia, beradaptasi dan bertahan hidup tanpa listrik. Selain itu, belum banyak dibahas solusi konkret yang dapat mengatasi ketimpangan akses listrik, terutama pemanfaatan energi terbarukan yang kini menjadi tren global dan nasional.

Solusi ke depan tentu harus mengedepankan pengembangan energi terbarukan yang ramah lingkungan dan terjangkau, seperti pembangkit listrik tenaga surya, mikrohidro, dan biomassa, yang dapat menjangkau daerah terpencil dengan kondisi geografis sulit. Pemerintah dan pemangku kepentingan perlu memperkuat program elektrifikasi desa dengan pendekatan mandiri berbasis komunitas, sekaligus membangun kapasitas masyarakat agar mampu mengelola sumber energi tersebut secara berkelanjutan. Tren global menunjukkan bahwa energi terbarukan akan menjadi tulang punggung sistem kelistrikan masa depan, sekaligus menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan mengatasi perubahan iklim. Dengan demikian, sambil terus mengupayakan pemerataan akses listrik, masyarakat Indonesia harus didorong untuk hidup hemat energi dan berinovasi dalam pemanfaatan sumber energi alternatif demi masa depan yang lebih cerah dan berkelanjutan.

Farid Asyhadi
Pejabat Fungsional Inspektur Ketenagalistrikan
Dinas ESDM Provinsi Sulawesi Barat

:

  • Adesetiawan9890. “Bisakah Kita Hidup Tanpa Listrik?” Kompasiana, 2023.

  • BBC Indonesia. “Setengah Juta Rumah Tangga Indonesia Hidup Tanpa Listrik.” 2021.

  • Gramedia.com. “Bagaimana Kalau Tidak Ada Listrik?” 2024.

  • Fahbi Hidayanto. “Kehidupan Manusia Jika Hidup Tanpa Listrik.” Kumparan, 2022.

  • CNN Indonesia. “Mandiri Tanpa Listrik Negara.” 2023.

  • Indowork.id. “Hidup Tanpa Listrik, Bagaikan…” 2020.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tantangan dan Peran Remaja Indonesia dalam Hemat Energi Menuju Masa Depan Berkelanjutan

  Energi listrik merupakan kebutuhan vital dalam kehidupan modern. Namun, kesadaran untuk menghemat energi—khususnya listrik—masih tergolong rendah, terutama di kalangan remaja Indonesia. Remaja yang berada pada rentang usia 12 hingga 24 tahun tumbuh di era digital dengan ketergantungan tinggi terhadap perangkat elektronik seperti smartphone, laptop, dan konsol game. Sebuah survei menunjukkan bahwa 95% remaja Indonesia memiliki akses ke ponsel pintar dan lebih dari 60% di antaranya menggunakannya selama lebih dari enam jam setiap hari (Arius, 2023). Pola konsumsi listrik ini tentu memberi tekanan besar terhadap sistem energi nasional, terutama dalam konteks transisi energi dan keberlanjutan lingkungan. Akar Masalah Konsumsi Energi di Kalangan Remaja Salah satu akar persoalan rendahnya kesadaran hemat energi di kalangan remaja adalah karena mereka umumnya belum menjadi penanggung jawab langsung atas biaya listrik di rumah. Tagihan listrik dipersepsikan sebagai “urusan orang tua”,...

Mengurangi Bahan Makanan Impor dalam Ompreng MBG

  Dilema di Balik Piring Bergizi Setiap pagi, jutaan piring makanan bergizi disiapkan di dapur-dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh Indonesia. Ada nasi, sayur, lauk, dan buah. Ada senyum anak-anak yang menyambutnya. Ada harapan generasi emas 2045 yang sedang dibangun melalui asupan gizi yang baik. Namun, di balik piring-piring itu, ada pertanyaan yang tak kunjung usai:  dari mana bahan-bahannya berasal? Ketika program Makan Bergizi Gratis (MBG) pertama kali diluncurkan, idealismenya begitu luhur: memberdayakan petani lokal, menghidupkan UMKM, dan mengurangi ketergantungan pada impor. Tapi perjalanan setahun terakhir menunjukkan bahwa mewujudkan idealisme itu tidak semudah membalik telapak tangan. Babak I: Fakta Pahit di Awal Perjalanan Februari 2025, baru sebulan program berjalan, kritik tajam menghantam. Dirjen Risbang Kemendikti Saintek mengungkap fakta memprihatinkan: program MBG masih  banyak menggunakan produk impor . Bukan hanya bahan baku pangan,...

Pelajaran dari Laos: Strategi Listrik Gratis untuk Rakyat Miskin dan Ekspor Energi yang Menguntungkan

  Laos memberikan contoh menarik dalam pengelolaan energi listrik yang tidak hanya memenuhi kebutuhan domestik tetapi juga mampu menjadi pengekspor listrik terbesar di Asia. Kebijakan pemerintah Laos yang memberikan listrik gratis kepada rakyat miskin merupakan langkah strategis yang berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dengan produksi listrik yang melimpah—hanya 30 persen digunakan untuk konsumsi dalam negeri dan sisanya diekspor ke negara tetangga seperti Myanmar, Vietnam, Thailand, dan China Selatan—Laos berhasil menciptakan sumber pendapatan yang signifikan sekaligus menjaga akses energi bagi seluruh lapisan masyarakat. Hal ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi Laos yang mencapai rata-rata 7,5 persen per tahun dan peningkatan pendapatan per kapita hingga 1500 persen dalam 20 tahun terakhir. Namun, keberhasilan Laos ini tidak lepas dari pemanfaatan sumber daya alam yang melimpah, khususnya potensi pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang menjadi tulang...