Langsung ke konten utama

Mahasiswa UNDIP Dorong Masyarakat Desa Beralih ke Pembayaran Listrik Digital Melalui Aplikasi PLN Mobile


Tulisan ini mengangkat inisiatif mahasiswa KKN Tim I Universitas Diponegoro (UNDIP) yang mengedukasi masyarakat Desa Kandangsapi, Kecamatan Jenar, Kabupaten Sragen, tentang kemudahan dan manfaat pembayaran listrik secara digital menggunakan aplikasi PLN Mobile. Penulis dengan baik menggambarkan kondisi masyarakat desa yang selama ini masih terbiasa melakukan pembayaran listrik secara konvensional melalui agen atau warung terdekat, serta minimnya sosialisasi terkait pembayaran digital. Melalui kegiatan yang digelar bersamaan dengan pertemuan ibu-ibu PKK dan kader Posyandu, mahasiswa memberikan penjelasan tentang konsep pembayaran digital, keunggulan metode ini, serta praktik langsung penggunaan aplikasi PLN Mobile. Kegiatan ini berjalan lancar dan mendapat respon positif dari peserta, yang diharapkan dapat mulai mencoba dan beralih ke pembayaran digital demi kemudahan, keamanan, dan efisiensi waktu.

Namun, tulisan ini belum mengupas lebih jauh tantangan yang mungkin dihadapi masyarakat desa dalam mengadopsi pembayaran digital, seperti keterbatasan akses internet, tingkat literasi digital yang bervariasi, dan kekhawatiran terhadap keamanan transaksi online. Selain itu, belum ada pembahasan mengenai dukungan berkelanjutan dari pemerintah atau PLN untuk memperluas edukasi dan akses teknologi digital di daerah terpencil. Tulisan juga belum menyentuh potensi integrasi fitur lain dalam aplikasi PLN Mobile yang dapat membantu masyarakat, seperti pelaporan gangguan listrik atau pengajuan layanan, serta bagaimana program loyalti dan insentif dari PLN dapat mendorong penggunaan aplikasi ini. Aspek monitoring dan evaluasi keberhasilan sosialisasi juga belum dijelaskan, sehingga sulit melihat dampak jangka panjang dari program tersebut.

Solusi yang dapat diterapkan adalah memperkuat infrastruktur digital di desa-desa dengan memperluas jaringan internet dan menyediakan pelatihan literasi digital secara berkelanjutan. Pemerintah dan PLN perlu bekerja sama untuk menyediakan program pendampingan dan insentif bagi masyarakat yang beralih ke pembayaran digital, termasuk memanfaatkan program loyalti seperti Gelegar PLN Mobile 2025 yang memberikan hadiah menarik bagi pengguna aktif aplikasi. Pengembangan materi edukasi yang mudah dipahami dan disebarluaskan melalui berbagai media juga penting agar semua lapisan masyarakat dapat mengakses informasi ini. Ke depan, tren digitalisasi layanan kelistrikan akan semakin kuat dengan integrasi fitur lengkap dalam aplikasi PLN Mobile, menjadikan pembayaran listrik dan layanan lainnya lebih cepat, transparan, dan user-friendly, terutama bagi masyarakat di daerah terpencil.

Farid Asyhadi
Pejabat Inspektur Ketenagalistrikan
Dinas ESDM Sulawesi Barat

Daftar Pustaka:

  • Paskahprabu3571, “Mahasiswa UNDIP Ajak Masyarakat untuk Bayar Listrik secara Digital Melalui Aplikasi PLN Mobile,” Kompasiana, 2023.

  • PT PLN (Persero), “PLN Mobile: Aplikasi Layanan Kelistrikan Terlengkap,” 2025.

  • Listrik Indonesia, “Gelegar PLN Mobile 2025 Resmi Diluncurkan, Cek Cara Ikutannya!,” 2025.

  • ANTARA News, “PLN Beri Hadiah bagi Pelanggan Gunakan PLN Mobile,” 2025.

  • Kompas.com, “Transformasi Digital PLN dan Dampaknya bagi Pelanggan,” 2024.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tantangan dan Peran Remaja Indonesia dalam Hemat Energi Menuju Masa Depan Berkelanjutan

  Energi listrik merupakan kebutuhan vital dalam kehidupan modern. Namun, kesadaran untuk menghemat energi—khususnya listrik—masih tergolong rendah, terutama di kalangan remaja Indonesia. Remaja yang berada pada rentang usia 12 hingga 24 tahun tumbuh di era digital dengan ketergantungan tinggi terhadap perangkat elektronik seperti smartphone, laptop, dan konsol game. Sebuah survei menunjukkan bahwa 95% remaja Indonesia memiliki akses ke ponsel pintar dan lebih dari 60% di antaranya menggunakannya selama lebih dari enam jam setiap hari (Arius, 2023). Pola konsumsi listrik ini tentu memberi tekanan besar terhadap sistem energi nasional, terutama dalam konteks transisi energi dan keberlanjutan lingkungan. Akar Masalah Konsumsi Energi di Kalangan Remaja Salah satu akar persoalan rendahnya kesadaran hemat energi di kalangan remaja adalah karena mereka umumnya belum menjadi penanggung jawab langsung atas biaya listrik di rumah. Tagihan listrik dipersepsikan sebagai “urusan orang tua”,...

Mengurangi Bahan Makanan Impor dalam Ompreng MBG

  Dilema di Balik Piring Bergizi Setiap pagi, jutaan piring makanan bergizi disiapkan di dapur-dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh Indonesia. Ada nasi, sayur, lauk, dan buah. Ada senyum anak-anak yang menyambutnya. Ada harapan generasi emas 2045 yang sedang dibangun melalui asupan gizi yang baik. Namun, di balik piring-piring itu, ada pertanyaan yang tak kunjung usai:  dari mana bahan-bahannya berasal? Ketika program Makan Bergizi Gratis (MBG) pertama kali diluncurkan, idealismenya begitu luhur: memberdayakan petani lokal, menghidupkan UMKM, dan mengurangi ketergantungan pada impor. Tapi perjalanan setahun terakhir menunjukkan bahwa mewujudkan idealisme itu tidak semudah membalik telapak tangan. Babak I: Fakta Pahit di Awal Perjalanan Februari 2025, baru sebulan program berjalan, kritik tajam menghantam. Dirjen Risbang Kemendikti Saintek mengungkap fakta memprihatinkan: program MBG masih  banyak menggunakan produk impor . Bukan hanya bahan baku pangan,...

Pelajaran dari Laos: Strategi Listrik Gratis untuk Rakyat Miskin dan Ekspor Energi yang Menguntungkan

  Laos memberikan contoh menarik dalam pengelolaan energi listrik yang tidak hanya memenuhi kebutuhan domestik tetapi juga mampu menjadi pengekspor listrik terbesar di Asia. Kebijakan pemerintah Laos yang memberikan listrik gratis kepada rakyat miskin merupakan langkah strategis yang berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dengan produksi listrik yang melimpah—hanya 30 persen digunakan untuk konsumsi dalam negeri dan sisanya diekspor ke negara tetangga seperti Myanmar, Vietnam, Thailand, dan China Selatan—Laos berhasil menciptakan sumber pendapatan yang signifikan sekaligus menjaga akses energi bagi seluruh lapisan masyarakat. Hal ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi Laos yang mencapai rata-rata 7,5 persen per tahun dan peningkatan pendapatan per kapita hingga 1500 persen dalam 20 tahun terakhir. Namun, keberhasilan Laos ini tidak lepas dari pemanfaatan sumber daya alam yang melimpah, khususnya potensi pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang menjadi tulang...