Langsung ke konten utama

Kemandirian Energi di Desa Terpencil: Inspirasi dari Warga Kahendran yang Membuat Listrik Sendiri


Tulisan ini mengulas video dokumenter berjudul “PLN Belum Ada, Warga Kampung Terpencil Ini Bikin Listrik Sendiri” yang menampilkan perjuangan masyarakat Afdeling Kahendran di lereng Gunung Hyang Argopuro, Kabupaten Jember, yang hidup tanpa akses listrik PLN. Dengan semangat mandiri, warga mengembangkan sistem energi alternatif berbasis tenaga surya sejak 2019 dan membangun turbin air buatan sendiri untuk memenuhi kebutuhan listrik mereka. Video ini juga menyoroti tantangan lain seperti kondisi jalan yang rusak, fasilitas pendidikan yang terbatas, dan minimnya layanan kesehatan di desa tersebut.

Kekuatan utama video terletak pada narasi humanis yang menginspirasi, dokumentasi mendalam tentang solusi kreatif warga, serta penggambaran kondisi nyata kehidupan di daerah terpencil. Namun, video kurang menyajikan wawancara dengan pihak pemerintah atau ahli energi untuk memberikan perspektif kebijakan yang lebih luas. Selain itu, latar belakang sejarah desa dan potensi ekonomi seperti perkebunan kopi bisa dikembangkan lebih lengkap untuk memperkaya konteks.

Solusi yang dapat diusulkan adalah peningkatan dukungan pemerintah dan lembaga terkait untuk memperluas akses listrik di daerah terpencil melalui program energi terbarukan. Pendampingan teknis dan pelatihan pengelolaan sistem energi mandiri bagi masyarakat perlu diperkuat. Selain itu, perbaikan infrastruktur jalan dan fasilitas umum akan mendukung peningkatan kualitas hidup warga. Kolaborasi multisektor sangat penting untuk mengatasi kesenjangan akses dan mempercepat pembangunan berkelanjutan di desa-desa terpencil.

Melihat tren ke depan, kemandirian energi berbasis sumber terbarukan seperti tenaga surya dan mikrohidro akan menjadi solusi strategis bagi daerah-daerah yang sulit dijangkau jaringan listrik PLN. Inovasi lokal dan gotong royong masyarakat menjadi modal utama dalam menghadapi keterbatasan infrastruktur, sekaligus mendorong pembangunan yang inklusif dan ramah lingkungan.

Farid Asyhadi
Pejabat Fungsional Inspektur Ketenagalistrikan
Dinas ESDM Provinsi Sulawesi Barat

Daftar Pustaka:

  • Fourzanitongjaya, “Resensi Video PLN Belum Ada, Warga Bikin Listrik Sendiri,” Kompasiana.com

  • TV Desa Jember, “PLN BELUM ADA, WARGA KAMPUNG TERPENCIL INI BIKIN LISTRIK SENDIRI,” YouTube, 2024

  • Kementerian ESDM RI, “Program Energi Terbarukan untuk Daerah Terpencil,” 2024

  • Kompas.com, “Inovasi Energi Mikrohidro dan Surya di Desa Terpencil,” 2023

  • Antaranews.com, “Pembangunan Infrastruktur dan Energi Terbarukan di Wilayah Terpencil,” 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tantangan dan Peran Remaja Indonesia dalam Hemat Energi Menuju Masa Depan Berkelanjutan

  Energi listrik merupakan kebutuhan vital dalam kehidupan modern. Namun, kesadaran untuk menghemat energi—khususnya listrik—masih tergolong rendah, terutama di kalangan remaja Indonesia. Remaja yang berada pada rentang usia 12 hingga 24 tahun tumbuh di era digital dengan ketergantungan tinggi terhadap perangkat elektronik seperti smartphone, laptop, dan konsol game. Sebuah survei menunjukkan bahwa 95% remaja Indonesia memiliki akses ke ponsel pintar dan lebih dari 60% di antaranya menggunakannya selama lebih dari enam jam setiap hari (Arius, 2023). Pola konsumsi listrik ini tentu memberi tekanan besar terhadap sistem energi nasional, terutama dalam konteks transisi energi dan keberlanjutan lingkungan. Akar Masalah Konsumsi Energi di Kalangan Remaja Salah satu akar persoalan rendahnya kesadaran hemat energi di kalangan remaja adalah karena mereka umumnya belum menjadi penanggung jawab langsung atas biaya listrik di rumah. Tagihan listrik dipersepsikan sebagai “urusan orang tua”,...

Mengurangi Bahan Makanan Impor dalam Ompreng MBG

  Dilema di Balik Piring Bergizi Setiap pagi, jutaan piring makanan bergizi disiapkan di dapur-dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh Indonesia. Ada nasi, sayur, lauk, dan buah. Ada senyum anak-anak yang menyambutnya. Ada harapan generasi emas 2045 yang sedang dibangun melalui asupan gizi yang baik. Namun, di balik piring-piring itu, ada pertanyaan yang tak kunjung usai:  dari mana bahan-bahannya berasal? Ketika program Makan Bergizi Gratis (MBG) pertama kali diluncurkan, idealismenya begitu luhur: memberdayakan petani lokal, menghidupkan UMKM, dan mengurangi ketergantungan pada impor. Tapi perjalanan setahun terakhir menunjukkan bahwa mewujudkan idealisme itu tidak semudah membalik telapak tangan. Babak I: Fakta Pahit di Awal Perjalanan Februari 2025, baru sebulan program berjalan, kritik tajam menghantam. Dirjen Risbang Kemendikti Saintek mengungkap fakta memprihatinkan: program MBG masih  banyak menggunakan produk impor . Bukan hanya bahan baku pangan,...

Strategi Pemerintah Indonesia Menindaklanjuti Kesepakatan Tarif 19% antara Presiden Prabowo dan Presiden Donald Trump: Memperkuat Fondasi Hubungan Dagang Bilateral Indonesia–Amerika Serikat

  Kesepakatan tarif impor sebesar 19% yang dicapai antara Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Juli 2025 menjadi tonggak penting dalam sejarah hubungan dagang bilateral kedua negara. Tarif ini berlaku untuk komoditas strategis seperti produk pertanian (kedelai, gandum, dan lainnya) serta migas yang diimpor dari Amerika Serikat, menggantikan tarif sebelumnya yang mencapai 32%. Penurunan ini tidak hanya mencerminkan keberhasilan diplomasi ekonomi Indonesia, tetapi juga membuka peluang baru untuk memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional. Namun demikian, agar kesepakatan ini benar-benar memberikan dampak positif bagi perekonomian nasional, diperlukan strategi yang cermat, terpadu, dan berorientasi jangka panjang oleh Pemerintah Indonesia. 1. Memperkuat Negosiasi dan Diplomasi Ekonomi Berkelanjutan Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Energi dan Sumber Da...