Langsung ke konten utama

Bijak Mengelola Energi Listrik: Kunci Penghematan dan Pencegahan Kenaikan Tagihan di Masa Pandemi

 

Pandemi Covid-19 yang berlangsung dalam beberapa tahun terakhir telah mengubah pola aktivitas masyarakat, termasuk peningkatan penggunaan listrik di rumah. Hal ini berpotensi menyebabkan kenaikan tagihan listrik yang signifikan jika tidak diimbangi dengan pengelolaan energi yang bijak. Oleh karena itu, penghematan energi listrik menjadi langkah strategis yang tidak hanya mengurangi beban biaya, tetapi juga berkontribusi pada pelestarian lingkungan.

Beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan untuk menghemat energi listrik antara lain:

  • Mengatur penggunaan lampu dengan memanfaatkan cahaya alami sebanyak mungkin dan mengganti lampu pijar dengan lampu LED yang lebih hemat energi.

  • Mencabut kabel perangkat elektronik saat tidak digunakan untuk menghindari konsumsi listrik standby yang tidak perlu.

  • Mengatur pemakaian alat elektronik seperti pendingin ruangan dan mesin cuci agar sesuai kebutuhan dan tidak berlebihan.

  • Menggunakan perangkat listrik hemat energi yang berlabel Energy Star atau sejenisnya untuk efisiensi maksimal.

  • Menerapkan kebiasaan hemat energi secara kolektif di lingkungan keluarga atau komunitas agar hasil penghematan lebih optimal.

Kesadaran dan disiplin dalam menerapkan langkah-langkah tersebut sangat penting agar penghematan energi listrik dapat berjalan efektif. Selain mengurangi pengeluaran, penghematan energi juga membantu mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan, seperti emisi karbon dan tekanan pada sumber daya listrik nasional.

Semoga dengan penerapan bijak energi ini, masyarakat dapat mencegah kenaikan tagihan listrik selama pandemi sekaligus mendukung upaya konservasi energi demi masa depan yang lebih berkelanjutan.

Farid Asyhadi
Pejabat Fungsional Inspektur Ketenagalistrikan
Dinas ESDM Sulawesi Barat

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tantangan dan Peran Remaja Indonesia dalam Hemat Energi Menuju Masa Depan Berkelanjutan

  Energi listrik merupakan kebutuhan vital dalam kehidupan modern. Namun, kesadaran untuk menghemat energi—khususnya listrik—masih tergolong rendah, terutama di kalangan remaja Indonesia. Remaja yang berada pada rentang usia 12 hingga 24 tahun tumbuh di era digital dengan ketergantungan tinggi terhadap perangkat elektronik seperti smartphone, laptop, dan konsol game. Sebuah survei menunjukkan bahwa 95% remaja Indonesia memiliki akses ke ponsel pintar dan lebih dari 60% di antaranya menggunakannya selama lebih dari enam jam setiap hari (Arius, 2023). Pola konsumsi listrik ini tentu memberi tekanan besar terhadap sistem energi nasional, terutama dalam konteks transisi energi dan keberlanjutan lingkungan. Akar Masalah Konsumsi Energi di Kalangan Remaja Salah satu akar persoalan rendahnya kesadaran hemat energi di kalangan remaja adalah karena mereka umumnya belum menjadi penanggung jawab langsung atas biaya listrik di rumah. Tagihan listrik dipersepsikan sebagai “urusan orang tua”,...

Mengurangi Bahan Makanan Impor dalam Ompreng MBG

  Dilema di Balik Piring Bergizi Setiap pagi, jutaan piring makanan bergizi disiapkan di dapur-dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh Indonesia. Ada nasi, sayur, lauk, dan buah. Ada senyum anak-anak yang menyambutnya. Ada harapan generasi emas 2045 yang sedang dibangun melalui asupan gizi yang baik. Namun, di balik piring-piring itu, ada pertanyaan yang tak kunjung usai:  dari mana bahan-bahannya berasal? Ketika program Makan Bergizi Gratis (MBG) pertama kali diluncurkan, idealismenya begitu luhur: memberdayakan petani lokal, menghidupkan UMKM, dan mengurangi ketergantungan pada impor. Tapi perjalanan setahun terakhir menunjukkan bahwa mewujudkan idealisme itu tidak semudah membalik telapak tangan. Babak I: Fakta Pahit di Awal Perjalanan Februari 2025, baru sebulan program berjalan, kritik tajam menghantam. Dirjen Risbang Kemendikti Saintek mengungkap fakta memprihatinkan: program MBG masih  banyak menggunakan produk impor . Bukan hanya bahan baku pangan,...

Pelajaran dari Laos: Strategi Listrik Gratis untuk Rakyat Miskin dan Ekspor Energi yang Menguntungkan

  Laos memberikan contoh menarik dalam pengelolaan energi listrik yang tidak hanya memenuhi kebutuhan domestik tetapi juga mampu menjadi pengekspor listrik terbesar di Asia. Kebijakan pemerintah Laos yang memberikan listrik gratis kepada rakyat miskin merupakan langkah strategis yang berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dengan produksi listrik yang melimpah—hanya 30 persen digunakan untuk konsumsi dalam negeri dan sisanya diekspor ke negara tetangga seperti Myanmar, Vietnam, Thailand, dan China Selatan—Laos berhasil menciptakan sumber pendapatan yang signifikan sekaligus menjaga akses energi bagi seluruh lapisan masyarakat. Hal ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi Laos yang mencapai rata-rata 7,5 persen per tahun dan peningkatan pendapatan per kapita hingga 1500 persen dalam 20 tahun terakhir. Namun, keberhasilan Laos ini tidak lepas dari pemanfaatan sumber daya alam yang melimpah, khususnya potensi pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang menjadi tulang...