Langsung ke konten utama

Sulbar Siap: Mengapa Provinsi Ini Bisa Jadi Lokomotif Revolusi Energi Nuklir Indonesia

 



Prolog: Ketika "Limbah" Berubah Jadi Harta Karun Nasional

Di sebuah desa bernama Botteng, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, tanah yang selama berpuluh tahun diinjak warga setiap hari ternyata menyimpan rahasia yang bisa mengubah masa depan energi Indonesia. Bukan minyak, bukan batu bara, dan bukan pula panel surya. Tapi torium—elemen radioaktif yang 200 kali lebih efisien dari uranium dan 3,5 juta kali lebih powerful dari batu bara .

Ironisnya, selama ini kita sibuk mengimpor BBM, membangun PLTU yang mengotori udara, dan berdebat tentang transisi energi yang mahal. Sementara di Mamuju, tepatnya di Kecamatan Tapalang dan Tapalang Barat, harta karun energi itu sudah dikaji pemerintah sejak tahun 2012 .

Pertanyaannya sekarang: Mengapa Sulawesi Barat? Dan mengapa baru sekarang?


Bab 1: Bukan Sekadar Wacana—Riset Sudah Berjalan Sejak Satu Dekade Lalu

Mari kita luruskan satu hal: potensi nuklir di Mamuju bukan isapan jempol. Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) bersama Dinas ESDM Sulbar telah melakukan pengkajian serius sejak awal 2012. Bahkan, Deputi Pengkajian dan Keselamatan Nuklir Bapeten RI, Yus Rusdian Akhmad, secara terbuka menyatakan bahwa potensi uranium dan torium di Mamuju "perlu mendapat perhatian nasional" .

Data dari penelitian terbaru di Institut Teknologi Sumatera mengungkapkan fakta yang mencengangkan: di Desa Botteng, Mamuju, laju dosis radiasi alam mencapai 11.264,5 nSv/jam—jauh di atas rata-rata normal. Ini bukan tanda bahaya, melainkan indikasi kekayaan. Kandungan uranium di wilayah ini tercatat 1.528,7 ppm eU, dan torium sebesar 453 ppm eTh .

Apa artinya? Sulawesi Barat duduk di atas salah satu cadangan torium terkaya di Indonesia. Dan selama ini, kita membiarkannya begitu saja.


Bab 2: Pakar Bicara—Dari Mamuju untuk Indonesia

Para ahli energi mulai angkat bicara. Muhammad Bachtiar Nappu, pakar energi dari Universitas Hasanuddin, menegaskan bahwa teknologi Small Modular Reactor (SMR) —reaktor nuklir mini—adalah solusi paling tepat bagi geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan .

Bayangkan: reaktor berkapasitas 50 MW yang bisa difabrikasi di pabrik, diangkut dengan kapal, dan dipasang di wilayah terpencil seperti pesisir Mamuju. Tidak perlu jaringan listrik raksasa. Tidak perlu transmisi ribuan kilometer. Listrik bisa dihasilkan di tempat yang membutuhkan.

Sementara itu, Andi Jumardi, pakar energi STT Migas Balikpapan, menegaskan bahwa Indonesia sebenarnya sudah sangat siap secara sumber daya manusia. "Kasus masa lalu seperti Fukushima adalah force majeure bencana alam. Teknologi nuklir saat ini sudah sangat modern dan mampu mengantisipasi risiko serupa. Secara ekonomi, harga listriknya pun relatif lebih murah dibanding energi fosil," katanya .

Dan Mamuju? Mamuju adalah bukti nyata bahwa Indonesia tidak perlu bergantung pada impor uranium. Bahan bakarnya ada di sini, di bawah kaki kita.


Bab 3: Hambatan yang Selalu Sama—Bukan Teknologi, tapi Mentalitas

Lalu kenapa rencana pembangunan PLTN di Mamuju tak kunjung terealisasi? Apakah teknologinya belum ada? Apakah SDM kita tidak mampu?

Jawabannya sederhana: bukan.

Hambatan terbesar selama ini adalah regulasi dan koordinasi lintas sektor. Kepala Bidang Energi Dinas ESDM Sulbar, Andi Rahmat, dengan jujur mengakui bahwa salah satu hambatan utama dalam merealisasikan berbagai rencana pembangkit listrik di Sulbar adalah belum tersusunnya Rencana Umum Ketenagalistrikan Daerah (RUKD) .

Tanpa RUKD, dokumen dasar kebijakan energi di daerah tidak memiliki pijakan hukum yang kuat. Proyek mangkrak. Investor ragu. Masyarakat menunggu.

Inilah ironi yang terus berulang di negeri ini. Sumber daya melimpah, ilmuwan siap, teknologi tersedia, tapi birokrasi berjalan di tempat.


Bab 4: Kabar Baik—Pemerintah Pusat Mulai Bergerak

Namun di tengah kebuntuan itu, angin segar mulai berembus dari Jakarta.

Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, baru-baru ini mengumumkan bahwa pemerintah menargetkan pembangunan PLTN bertahap hingga kapasitas 7 gigawatt (GW) pada 2034. Tahap awal akan dimulai dengan 500 MW .

Lebih penting lagi, Peraturan Presiden tentang Badan Pelaksana Program Energi Nuklir Indonesia kini sudah berada di meja Presiden Prabowo Subianto, tinggal menunggu tanda tangan . Perpres ini adalah prasyarat utama yang ditetapkan International Atomic Energy Agency (IAEA) sebelum Indonesia bisa mengoperasikan PLTN pertama.

Setelah Perpres diteken, pemerintah akan membentuk Nuclear Energy Program Implementation Organization (NEPIO) yang dipimpin langsung Presiden, dengan Menteri ESDM sebagai ketua harian .

Artinya? Tidak ada lagi alasan untuk menunda. Rantai birokrasi yang selama ini menghambat akan dipangkas. Keputusan strategis bisa diambil tanpa tarik-menarik kepentingan sektoral.


Bab 5: Apa Artinya Buat Sulawesi Barat?

Jika semua berjalan sesuai rencana, Mamuju dan Sulbar secara keseluruhan bisa menjadi episentrum revolusi energi Indonesia. Bukan sekadar daerah penghasil bahan mentah yang dikirim ke Jawa, tapi pusat pembangkit listrik yang menyuplai energi murah dan bersih untuk kawasan timur Indonesia.

Coba bayangkan dampaknya:

  1. Listrik murah untuk industrialisasi lokal. Pabrik-pabrik pengolahan hasil pertanian dan perikanan bisa berdiri tanpa khawatir biaya energi.

  2. Hilirisasi sumber daya alam. Nikel, tembaga, dan berbagai mineral bisa diolah di dalam daerah, bukan dikirim mentah-mentah.

  3. Lapangan kerja berkualitas bagi putra-putri daerah. Teknisi reaktor, insinyur nuklir, peneliti—semua akan dibutuhkan.

  4. Pendapatan asli daerah yang melonjak. Bukan sekadar bagi hasil tambang, tapi nilai tambah dari energi yang dihasilkan.

Inilah yang dimaksud dengan kedaulatan energi. Bukan sekadar jargon, tapi kemampuan nyata untuk menentukan masa depan sendiri.


Bab 6: Yang Perlu Disiapkan—Dari Masyarakat hingga Pemerintah Daerah

Tentu saja, perjalanan masih panjang. Teknologi nuklir bukan mainan. Ada standar keselamatan internasional yang harus dipenuhi. Ada sertifikasi SDM yang harus dijalani. Dan yang paling krusial: penerimaan masyarakat.

Peneliti CSIS, Ardhi Wardhana, mengingatkan bahwa kelayakan proyek nuklir sangat bergantung pada kesiapan tata kelola, keselamatan, mitigasi risiko, dan penerimaan publik .

Karena itu, peran pemerintah daerah dan tokoh masyarakat Sulbar menjadi sangat penting. Edukasi publik harus dimulai sekarang. Jangan sampai ketakutan irasional—yang sengaja dipelihara oleh pihak-pihak yang berkepentingan dengan energi mahal—menghalangi masa depan cerah daerah ini.

Pemerintah pusat sendiri sudah mengantisipasi hal ini. Indonesia juga tengah menjajaki kerja sama dengan berbagai negara—dari Slovakia yang berpengalaman 60 tahun di bidang nuklir, hingga Amerika Serikat dengan program FIRST-nya yang fokus pada penguatan kebijakan dan kapasitas kelembagaan .

Artinya, transfer teknologi dan pengetahuan akan berjalan seiring dengan pembangunan fisik. Tidak ada alasan untuk takut, selama kita serius mempersiapkan diri.


Epilog: Sulbar, Antara Mimpi dan Kenyataan

Pada akhirnya, semua kembali pada satu pertanyaan sederhana:

Apakah kita siap?

Siap secara mental untuk menerima bahwa teknologi nuklir bukan monster menakutkan, melainkan solusi nyata atas krisis energi yang mengintai. Siap secara kelembagaan untuk menyusun regulasi daerah yang mendukung, bukan menghambat. Dan siap secara kolektif untuk merebut peluang yang selama puluhan tahun terlewatkan.

Sulawesi Barat memiliki semua modal untuk menjadi lokomotif revolusi energi Indonesia. Sumber daya alamnya terbukti ada. Risetnya sudah berjalan sejak satu dekade lalu. Dukungan pemerintah pusat kini semakin nyata.

Yang kurang hanya satu: keberanian untuk memulai.

Seperti kata Yus Rusdian Akhmad dari Bapeten, "Kami tidak ingin memposisikan masyarakat menjadi korban. Itu bagian dari visi kami" .

Karena pada akhirnya, kedaulatan energi bukan hadiah. Kedaulatan energi adalah sesuatu yang harus diperjuangkan, direbut dari ketakutan, dari birokrasi yang berbelit, dan dari kepentingan asing yang ingin kita tetap menjadi pasar, bukan pemain.

Sulbar, sudah siapkah kau menjemput takdir besar itu?


Referensi:

  • Kajian Bapeten dan Dinas ESDM Sulbar tentang potensi uranium/torium di Mamuju sejak 2012 

  • Penelitian ITERA tentang kandungan torium di Desa Botteng, Mamuju 

  • Pernyataan pakar energi dari Unhas, STT Migas, dan ITS tentang kesiapan teknologi nuklir Indonesia 

  • Target PLTN 7 GW pemerintah hingga 2034 

  • Perpres Badan Nuklir yang menunggu tanda tangan Presiden 

  • Kerja sama internasional Indonesia dengan Slovakia dan AS dalam pengembangan nuklir

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antisipasi Bahaya Listrik: Langkah-Langkah Penting untuk Keselamatan Rumah Tangga

  Bahaya listrik di rumah tangga dapat menimbulkan risiko serius seperti korsleting, kebakaran, dan sengatan listrik yang mengancam keselamatan jiwa dan harta benda. Oleh karena itu, penting bagi setiap keluarga untuk memahami dan menerapkan langkah-langkah pencegahan yang efektif agar lingkungan rumah tetap aman dan nyaman. Berikut adalah beberapa langkah penting yang perlu diperhatikan: Periksa Kondisi Kabel dan Perangkat Listrik Secara Berkala Jika kabel terasa panas, ini menandakan adanya arus berlebih atau kabel berkualitas buruk. Segera matikan perangkat yang terhubung, periksa kapasitas kabel, dan ganti kabel dengan yang sesuai standar SNI untuk mencegah risiko kebakaran 1 2 . Segera Tindaklanjuti Jika Tercium Bau Terbakar atau Muncul Asap Bau terbakar atau asap dari instalasi listrik bisa menjadi tanda korsleting atau overheating. Matikan listrik dari sumber utama dan hubungi teknisi listrik profesional untuk pemeriksaan dan perbaikan 1 . Hindari Penumpukan Beban pada Stop ...

Tantangan dan Peran Remaja Indonesia dalam Hemat Energi Menuju Masa Depan Berkelanjutan

  Energi listrik merupakan kebutuhan vital dalam kehidupan modern. Namun, kesadaran untuk menghemat energi—khususnya listrik—masih tergolong rendah, terutama di kalangan remaja Indonesia. Remaja yang berada pada rentang usia 12 hingga 24 tahun tumbuh di era digital dengan ketergantungan tinggi terhadap perangkat elektronik seperti smartphone, laptop, dan konsol game. Sebuah survei menunjukkan bahwa 95% remaja Indonesia memiliki akses ke ponsel pintar dan lebih dari 60% di antaranya menggunakannya selama lebih dari enam jam setiap hari (Arius, 2023). Pola konsumsi listrik ini tentu memberi tekanan besar terhadap sistem energi nasional, terutama dalam konteks transisi energi dan keberlanjutan lingkungan. Akar Masalah Konsumsi Energi di Kalangan Remaja Salah satu akar persoalan rendahnya kesadaran hemat energi di kalangan remaja adalah karena mereka umumnya belum menjadi penanggung jawab langsung atas biaya listrik di rumah. Tagihan listrik dipersepsikan sebagai “urusan orang tua”,...

Menjadi Pintar dengan Listrik Prabayar PLN: Kendali Penuh atas Konsumsi Energi Rumah Tangga

Listrik prabayar PLN hadir sebagai inovasi layanan yang memudahkan pelanggan dalam mengontrol penggunaan listrik secara lebih cerdas dan efisien. Berbeda dengan sistem pascabayar yang tagihan listriknya dibayar setelah pemakaian, listrik prabayar mengharuskan pelanggan membeli token listrik terlebih dahulu sesuai kebutuhan, mirip seperti membeli pulsa telepon seluler. Pengalaman pribadi penulis di Pondok-Pinang, Jakarta Selatan, menggambarkan betapa listrik prabayar memberikan kemudahan dan keamanan. Setelah mengalami kerusakan meteran listrik pascabayar yang sempat menimbulkan percikan api dan kepanikan, penulis dan keluarganya beralih ke listrik prabayar atas rekomendasi petugas PLN. Dengan listrik prabayar, mereka tidak lagi terikat jadwal pembayaran bulanan dan dapat mengisi token listrik kapan saja sesuai kebutuhan. Listrik prabayar juga mendorong keluarga menjadi lebih bijak dalam menggunakan listrik karena pemakaian listrik harus diimbangi dengan pembelian token yang tersedia. H...